My Favorite

Favorite Place. Favorite Man.

Kunjungan Pertama

Kunjungan pertama ke negeri Singa. Bosan dengan Merlion, bergaya dengan latar landmark lainnya.

Jakarta Fair 2017

Satu acara rutin tahunan yang dinanti-nanti, Pekan Raya Jakarta alias PRJ yang kini berganti nama menjadi Jakarta Fair. Hampir tiap tahun tidak pernah bolos. Bahkan dalam sebulan bisa beberapa kali. Acara biasanya berlangsung selama sebulan, tahun ini lebih panjang. Buka tanggal 8 Juni tutup 16 Juli 2017.

Sampai tulisan ini diturunkan, penulis sudah dua kali masuk Jakarta Fair. Padahal yah ke sana ga gimana-gimana juga. Tapi suka aja gitu sama keramaian "pasar malam". 

Kegiatan pasti di Jakarta Fair ala gue:
Satu. Mengunjungi stand Yakult. Beli dua pack, boleh ambil undian untuk mendapatkan hadiah langsung. Incaran, botol minum bentuk botol Yakult. 

Dua. Jajan kerak telor. Ga ada stand khusus. Asal mampir aja. Secara banyak banget pilihannya. Dan rasanya agak mustahil juga untuk menghapal posisi atau muka penjual. Satu yang harus diperhatikan adalah membeli minum di stand sekitat penjual kerak telor. Masa beli minum dua botol 16rb. 

Tiga. Stand pakaian anak. Murah beneran yang ini. Pakaian karakter lisensi mulai dari 30an. 

Empat. Stand jajanan sejenis sosis dan yang goreng-goreng lainnya. Jangan bahas sehat ga sehatnya yah.. Hahahah..

Lima. Anjungan daerah. Biasa nyokap suka cari stand dari Kalimantan Tengah untuk membeli akar "bulu perindu" yang berkhasiat untuk menghilangkan angin. Terutama angin duduk yang maha lihai itu.

Rasanya itu dulu. Kalo ada lagi nanti diupdate. 

Oh yah, jangan lupa yah. Beda hari besa pula harga tiket masuk (HTM) Jakarta Fair. Paling murah hari senin. 
Daftar harga tiket masuk Jakarta Fair 2017: 

Senin Rp. 20.000
Selasa - Kamis Rp. 25.000
Jumat Rp. 30.000
Sabtu- Minggh Rp..35.000

Photo booth

Kegiatan kekinian pada masa SMA dulu kini dilakoni bersama anak. Begitu cepatnya waktu berlalu.. 

Pada jaman itu, ga boleh liat photo booth. Sampai antri-antri pun disabari. Tak ketinggalan album untuk menempel foto-foto instan dalam bentuk stickernya. Kalo yang ga sticker kita fungsikan double tape. Hehehe.. 

Niat untuk foto sebenarnya sudah beberapa kali muncul ketika melihat photo booth di Timez***. Hanya saja batal karena per sekali foto itu Rp. 45.000. Ga rela. Ketika kemaren ini menemani si Anak main di Empo P***, eh lihat ada photo booth juga. Ditengok, cuma Rp. 30.000. Jadi lah kembali bergaya. 

Kagok-kagok dikit bermain dengan mesin yang "up-to-date" itu. Apalagi batas waktu untuk menentukan pilihan yang singkat banget. Boro-boro mau melihat jelas pilihan design yang ada, apa yang harus dilakukan aja masih bingung. Jepret-jepret juga cepat! Timing yang ditentukan ga cocok banget untuk foto sama anak-anak yang masih harus diarahkan. Apalagi pengalaman pertama setelah sekian tahun. Hahaha..

Ya sudah lah.. Anggap seru-seruan aja. Yang penting hepi. Huehehehe... 


-Ling-

Nyalon

Anak mama nyalon untuk pertama kalinya. Sejak dibotakin sama Ieie dan Ama waktu usia 40 hari, ini pertama kalinya rambut si Anak bukan gue yang guntingin. 

Sedikit menyesal karena tidak browsing dulu untuk memilih model rambut kekinian dan malah memotong model rambut Dora. Kalimat sakti, ini seh sama aja seperti gue potongin sendiri di rumah. Ckckck.. Tapi ya sudah lah yah.. anggap aja membayar untuk ngilmu cara mendiamkan agar bisa memotong dengan lebih leluasa. 

Dan, ide penghematan "potong poni pendekan dikit" karena banyak yang bilang aneh setelah melihat hasilnya, jadi ikut merasa bersalah sama si Anak. 

Last but not least, setelah membandingkan dengan foto terakhir, gue pun lebih suka model rambutnya yang lama! Baik lah.. selanjutnya Mama akan menolak desakan atau masukan pihak mana pun yang menyarankan rambut pendek untuk mu. 

Dan, potong rambutnya kembali ke salon Mama saja yah, Nak. Ikhlas ga ikhlas harus merogoh 150 ribu untuk jasa gunting rambut mu. Yang penting kan udah pernah ngerasain nyalon sambil duduk dalam mobil sambil nonton tv serta rambut lembut mu di blow sama profesional. Toh sentuhan tangan mama mu ini ga kalah sama si om dan tante di sana. 

Love you my Dora the Explorer! 


-Ling-

Pulau Kemaro

Pulau Kemaro terletak tak jauh dari kota Palembang. Jadi, sampai di Palembang harus menyeberang ke Pulau Kemaro. Perjalanan hanya 15 menit dengan speedboat yang disewa seharga Rp.300.000 untuk pulang-pergi. Kapasitas sekitar 6-7 orang jika kecil-kecil (perkiraan pribadi). Kemaren itu kami lima dewasa dan satu anak 2.5 tahun, dan masi ada tempat untuk satu orang lagi.

Yang paling mencolok dari pulau kecil ini adalah ada satu bangunan kelenteng dengan pagoda tinggi menjulang sebagai landmark. Sayang ketika kami berkunjung sudah sore, meski pintu pagoda terbuka tapi pagar terkunci. Jadi ga bisa masuk dan menaiki pagodanya. Waktu itu hanya sempat masuk ke dalam Kelenteng. 

Juru kunci Kelenteng adalah seorang keturunan Tionghua yang beristerikan Melayu Palembang. Mereka tinggal di bangunan terpisah masih dalam "komplek" Kelenteng. Mereka juga mengajak kami mampir ke warung mereka untuk menikmati kelapa muda.

Sebutir kelapa muda pun menutup kunjungan kami di Pulau Kemaro. 


-Ling-

Three S

Most child can not says "No" to, swim, swing and a splash at beach! Most mom can not get enough with her baby happy face. 

And what happen at night is mom calming down her "ngigo" baby after having a combo. Baby swim, swing and splash in one day! 

Yeay! We had an over excited girl in the house!

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.. 


-Ling-

Tiba di Bali

Kemaren itu, untuk pertama kalinya menuju Bali melalui jalan darat. Menyeberangi selat Sunda dan tiba di Gilimanuk. Berangkat dari Malang sekitar jam enam sore, tiba di terminal Ubung, Bali sekitar jam lima pagi. Bus Gunung Harta yang kami tumpangi sangat nyaman! Susunan kursi 2-2 dengan ruang kaki super lega dan bisa diatur, membuat perjalanan panjang tidak terasa. 

Bus hari itu bisa dikatakan sedikit lebih terlambat dari biasanya. Tak lama meninggalkan kota Malang, kami melewati kemacetan yang cukup parah. Ada kecelakaan jika tak salah. Tapi lumayan, jadinya hari sudah terang ketika tiba di Denpasar. 

Terminal Ubung sedikit mengejutkan kami. Citra Bali sebagai kota ramah turis sedikit tergores karena begitu banyak yang menawarkaan taksi dengan nada yang "tidak biasa". Ada selintingan terdengar "sombongnya" dan "dijemput om-nya", ketika kami melewati barisan supir taksi yang menawarkan jasa. 

Sebelumnya memang sudah sempat juga membaca cerita Terminal Ubung yang katanya agak-agak. Bahkan ada cerita ketika musim pulang kampung, ada yang dipaksa menaiki bus meski beda jurusan atau tidak sampai tujuan. Tapi masih tidak langsung percaya. Jadi sempat kaget juga ketika mengalami sendiri suasana di terminal. Apalagi pagi-pagi, antara baru bangun dan masih bingung. 

Saudara yang menjemput tiba beberapa menit kemudian. Ketika menunggu, sempat memperhatikan para supir taksi yang akan langsung mendatangi para penumpang yang baru akan turun dari bus. Jarang yang menggunakan jasa taksi. Entah ada yang menjemput atau akan berjalan keluar terminal.

Ternyata memang tak semua kendaraan pribadi bisa masuk ke dalam terminal. Si Saudara ini kebetulan kerjaannya keluar-masuk terminal untuk mengambil paket, jadi kendaraannya sudah "aman". Jadi, untuk menghindari taksi terminal yang notabene akan mengenakan harga tinggi, langsung saja jalan keluar dan cari taksi atau kendaraan lainnya di jalan. Tapi jika tidak keberatan dengan harga, maka tak masalah untuk menggunakan jasa taksi terminal. 


-Ling-

Happy Mother Day

Hi ibu-ibu.. Selamat Hari Ibu.. 

Sejujurnya, gue sendiri jarang sekali mengucapkan "Selamat Hari Ibu", ke nyokap. Bisa dibilang termasuk golongan yang tidak memperingati "Hari-harian" semacam ini. Terlebih lagi nyokap. Jadi lah untuk urusan beginian kita termasuk yang jadoel. 

Tahun ini untuk pertama kalinya mendapat kartu dan bunga dalam rangka Hari Ibu yang dibuatkan oleh Si Anak di sekolahnya. Tak alang-alang, kartu dan bunga diberikan di atas panggung setelah acara nyanyi dan "fashion show" selesai. 

Cerita mengenai kartu, jadi kartu dibuat satu hari sebelum hari H pentas. Dan pada saat dijemput si Anak keukeuh sampai nangis-nangis mau menunjukannya pada saat dijemput. Padahal itu harusnya surprise buat si ibu. Ckckckck..

Di panggung beda lagi ceritanya. Tiga kali pertunjukan, dua kali dia keluar sambil menangis. Alasannya, karena ga ada mama. Hayaya.. harus lebih sering latihan ditinggal mama ini anak. Yang sukses tidak nangis hanya ketika keluar menyanyikan lagu "Shi shang Ceyou Mama Hao". Keluar panggung aja yah. Nyanyi mah masi ala kadarnya. Latihan aja cuma tiga hari. Dikasi tau Rabu, Sabtu pertunjukan. 

Oh yah, tema cosplay adalah My Hero. Bisa tokoh, profesi, atau karakter kesukaan. Berhubung punya mama praktis, untuk kostum, gaun dilengkapi dengan sayap, jadilah fairy! Eh.. malah "Bukan fairy mama. Butterfly". Oke lah nak! 

Sekali lagi.. Selamat Hari Ibu! Happy Mother Day!! 


-Ling-