My Favorite

Favorite Place. Favorite Man.

Kunjungan Pertama

Kunjungan pertama ke negeri Singa. Bosan dengan Merlion, bergaya dengan latar landmark lainnya.

Nail Art

Hasil karya nail art artist cilik ku.. 

Belum genap tiga tahun tapi sudah menunjukan minat yang besar terhadap nail art. Semoga nanti berlanjut dan menjadi ahli di bidangnya. Mama dukung!


-Ling-

Seblak Jelatet

Penampilan mungkin gak cantik, tapi rasa.. aduhai.. bikin nagih pengen lagi pengen lagi. Nama lengkapnya Seblak Jelatet Murni. Yang mana baru gue ketahui hari ini. Sebelumnya cuma tau namanya Seblak Muara Karang dan merupakan cabang dari Seblak di Pademangan. Dan, ternyata Seblak ini cukup beken dan kekinian. 

Pengetahuan gue mengenai Seblak cuma sedikit. Pemahaman gue akan Seblak adalah makanan kekinian baru asal Bandung yang isinya sejenis mie tek-tek kuah dengan tambahan ceker dan kerupuk tanpa di goreng yang menjadi ciri khasnya. Karena mengandung ceker ini pula minat gue terhadap Seblak, nol.

Ketika diajak untuk mencoba Seblak Jelatet ini sempat menolak dengan alasan ga doyan ceker. Tapi diyakinkan klo Seblak yang satu ini beda. Kita boleh pilih sendiri isi Seblak yang kita inginkan. Iming-imingnya adalah, kuahnya enak! Pedas mantap! Jadi lah berangkat pada hari yang telah ditentukan. 

Pertama kali masuk tempat makannya, sempat norak. Bingung sama cara memesan makanannya. Ada opsi pilihan menu dan topping. Ada pula pilihan tingkat kepedasan yang diinginkan dengan rentang dari 0-5.

Jadi, di Seblak Jelatet ini kita bisa bebas memilih isi yang kita inginkan. Harga dihitung per item dimana satunya Rp. 8000. Untuk satu mangkok, diwajibkan memilih minimal tiga isi dari apa yang ditawarkan. Mie, Kwetiau, Makaroni, Ceker, Kikil, Bakso, Kerupuk. Berlaku pengulangan. Satu jenis bisa dipilih dua kali atau lebih. Misalnya, Bakso, Bakso dan Kerupuk. Atau bahkan boleh memilih Bakso, Bakso, Bakso. 

Setelah memilih tiga item, baru bisa memilih topping tambahan. Beberapa yang ditawarkan seperti Sosis, Fish Ball, Cihwa, Sayap Ayam, Telor, dll. Harganya bervariasi. 

Ketika menu pilihan datang, hemm.. beda banget sama yang pernah dilihat sebelumnya. Warna kuahnya beda banget. Begitu mencicipi kuah level 1 yang dipesan, langsung keluar asap! Wkwkwkwk.. saking pedasnya sampai ga sanggup untuk menghabiskan. Lidah pun ga bisa menikmati. Tapao!

Pesan satu porsi lagi untuk dibawa pulang. Si Kamu katanya mau mencicipi. Strategi agar kuah ga mubazir, pesanan baru, level 0. Rencananya kedua kuah tersebut akan dicampur agar tingkat kepedasannya menjadi lebih manusiawi. 

Ketika di rumah, boro-boro dicampur langsung, yang ada kuah level 0 berlaku seperti sambal untuk menambah rasa pada mangkok kedua. Bayangkan rasa pedasnya! Hahaha.. 


-Ling-

Menyusui dan Sleep Trainning

Urusan ASI si Anak, setali tiga uang dengan sleep trainning. Sulit sekali bagi dia untuk tidur sendiri tanpa (nenen) mamanya. Karena kebiasaan nenen sambil tiduran dan ketiduran beneran, jadinya dia ga bisa tidur kalo ga sambil nenen. Kebiasaan ngempeng nenen ini berlanjut terus sampai sekarang. 

Proses lepas ASI, atau lebih tepatnya "menyusui" sendiri beberapa kali mengalami maju-mundur. Ga kelar-kelar. PR utamanya yah ketika jam tidur. Jadi buat gue, lepas menyusui sama dengan sleep trainning. Iya. Sleep trainning gue gagal total. Ditanya alasannya apa dan bagaimana ceritanya bisa sampai kebablasan untuk urusan tidur ini, gue pun sudan ga ingat.  

Sejak mendekati usia dua tahun, beberapa metode sudah coba diterapkan. Rasanya pernah di posting juga ceritanya. 

Buat gue, kemelekatan ini terjadi karena ada andil gue juga, jadi gue pun ga mau langsung memaksakan dia untuk bisa melepas dengan cara keras. Perlahan tapi pasti. Sadar diri dengan metode yang dipilih, target pun ga muluk dan super karet. Lepas total usia tiga tahun. *crossing fingers*. 

Memasuki bulan kedelapan, sebenarnya sudah beberapa kali proses lepas menyusui ini mencapai tahap "hampir lulus". Ritme sudah dapat, si Anak juga sudah mulai terbiasa, eh ada perubahan rutinitas atau kegiatan yang cukup signifikan. Seperti yang terjadi April lalu, sudah sempat beberapa hari tidur bermodal susu botol, tiba-tiba travelling hampir satu bulan. Jadilah kebiasaan lama muncul kembali. Kejadian paling anyar, minggu lalu mendadak panas selama beberapa hari. Rewel karena ga enak bodi, nenen pun jadi solusi. Apalagi katanya ASI "tua" sangat baik untuk imun tubuh. 

Setelah beberapa kali progres ke-reset, semoga kali ini menemukan titik terang dan berhasil lulus tahap yang satu ini. Sekarang adalah hari keempat, semoga kebiasaan ini terus berlanjut. Jadi PR selanjutnya adalah melatih dia untuk menenangkan diri sendiri ketika terbangun serta menghilangkan keahliannya nenen sambil bobo. 

Menurut gue, Si Anak sendiri sebenarnya sudah tau dan sadar kalo memang sudah saatnya dia berhenti menyusui. Beberapa kali dia sendiri yang bilang kalo dia sudah bukan bayi lagi dan sudah tidak mau nyusu. Tapi begitu candunya datang, tanpa malu dia merubah diri menjadi bayi. Bahkan sampai bertingkah dan berbicara bahasa bayi. Jadi, bukan tak mau, hanya saja dia belum mampu.

Dua hari tidur guling-guling, hari ini dia maunya tidur di atas guling. Apapun itu, semoga kali ini berhasil lulus!

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.. 


-Ling-

Plan B Lebaran

Libur Lebaran memungkinkan untuk berkeliling Jakarta tanpa ditakuti oleh kemacetan yang terkenal itu. Di hari kedua Lebaran, rencana bersilahturahmi ke rumah saudara yang merayakan Idulfitri tahun ini harus berpindah lokasi. Orang yang dituju sedang berada di "Rumah Sehat" alias hospital. Jadi, acara rusuh pun pindah alamat. Dan batal juga mengajak serta si Anak untuk ikut meramaikan acara, bertemu dengan sanak keluarga. 

Plan B adalah, Anak tinggal di rumah bersama Papanya. PR Papa adalah memastikan anak tenang terkendali sampai gue kembali ke rumah. Baru deh setelah itu jalan-jalan sama-sama lagi.

Rumah Sehat yang dituju ini sedikit lebih dekat dibanding ke rumah si Koko. Dan karena RS, maka harusnya tidak lama berkunjung ke sana. Toh yang sakit harus beristirahat. Jadi keputusan sudah bulat untuk menjalankan plan B. 

Eh eh eh.. tetap saja. Jalan jam tiga, jemput saudara lainnya, meluncur ke RS, ngobrol yang super lama, pulang sampai rumah lagi sekitar jam delapan malam. Anak yang jarang banget ditinggal pun menyampaikan isi hatinya. 

"Mama pergi. Audrey sama Papa di rumah. Mama perginya lama banget! Ga boleh pergi lama-lama". 

Berniat memberi penjelasan, 
"Mama kan perginya jauh. Jadinya lama deh". Eh, tanpa babibu diskak-mat "Mama ga boleh pergi jauh-jauh. Mama perginya yang dekat aja dari rumah". Hemm.. ga tau lagi mesti jawabnya gimana. Ckckck... 

Jika ada yang penasaran kaitan ketikan dengan pilihan foto, itu adalah foto pemandangan Jakarta malam yang diambil dari kamar RS lantai 35. Beautiful! Get well soon dear Aso. Muahh.. 


-Ling-

Jakarta Fair 2017

Satu acara rutin tahunan yang dinanti-nanti, Pekan Raya Jakarta alias PRJ yang kini berganti nama menjadi Jakarta Fair. Hampir tiap tahun tidak pernah bolos. Bahkan dalam sebulan bisa beberapa kali. Acara biasanya berlangsung selama sebulan, tahun ini lebih panjang. Buka tanggal 8 Juni tutup 16 Juli 2017.

Sampai tulisan ini diturunkan, penulis sudah dua kali masuk Jakarta Fair. Padahal yah ke sana ga gimana-gimana juga. Tapi suka aja gitu sama keramaian "pasar malam". 

Kegiatan pasti di Jakarta Fair ala gue:
Satu. Mengunjungi stand Yakult. Beli dua pack, boleh ambil undian untuk mendapatkan hadiah langsung. Incaran, botol minum bentuk botol Yakult. 

Dua. Jajan kerak telor. Ga ada stand khusus. Asal mampir aja. Secara banyak banget pilihannya. Dan rasanya agak mustahil juga untuk menghapal posisi atau muka penjual. Satu yang harus diperhatikan adalah membeli minum di stand sekitat penjual kerak telor. Masa beli minum dua botol 16rb. 

Tiga. Stand pakaian anak. Murah beneran yang ini. Pakaian karakter lisensi mulai dari 30an. 

Empat. Stand jajanan sejenis sosis dan yang goreng-goreng lainnya. Jangan bahas sehat ga sehatnya yah.. Hahahah..

Lima. Anjungan daerah. Biasa nyokap suka cari stand dari Kalimantan Tengah untuk membeli akar "bulu perindu" yang berkhasiat untuk menghilangkan angin. Terutama angin duduk yang maha lihai itu.

Rasanya itu dulu. Kalo ada lagi nanti diupdate. 

Oh yah, jangan lupa yah. Beda hari besa pula harga tiket masuk (HTM) Jakarta Fair. Paling murah hari senin. 
Daftar harga tiket masuk Jakarta Fair 2017: 

Senin Rp. 20.000
Selasa - Kamis Rp. 25.000
Jumat Rp. 30.000
Sabtu- Minggh Rp..35.000

Photo booth

Kegiatan kekinian pada masa SMA dulu kini dilakoni bersama anak. Begitu cepatnya waktu berlalu.. 

Pada jaman itu, ga boleh liat photo booth. Sampai antri-antri pun disabari. Tak ketinggalan album untuk menempel foto-foto instan dalam bentuk stickernya. Kalo yang ga sticker kita fungsikan double tape. Hehehe.. 

Niat untuk foto sebenarnya sudah beberapa kali muncul ketika melihat photo booth di Timez***. Hanya saja batal karena per sekali foto itu Rp. 45.000. Ga rela. Ketika kemaren ini menemani si Anak main di Empo P***, eh lihat ada photo booth juga. Ditengok, cuma Rp. 30.000. Jadi lah kembali bergaya. 

Kagok-kagok dikit bermain dengan mesin yang "up-to-date" itu. Apalagi batas waktu untuk menentukan pilihan yang singkat banget. Boro-boro mau melihat jelas pilihan design yang ada, apa yang harus dilakukan aja masih bingung. Jepret-jepret juga cepat! Timing yang ditentukan ga cocok banget untuk foto sama anak-anak yang masih harus diarahkan. Apalagi pengalaman pertama setelah sekian tahun. Hahaha..

Ya sudah lah.. Anggap seru-seruan aja. Yang penting hepi. Huehehehe... 


-Ling-

Nyalon

Anak mama nyalon untuk pertama kalinya. Sejak dibotakin sama Ieie dan Ama waktu usia 40 hari, ini pertama kalinya rambut si Anak bukan gue yang guntingin. 

Sedikit menyesal karena tidak browsing dulu untuk memilih model rambut kekinian dan malah memotong model rambut Dora. Kalimat sakti, ini seh sama aja seperti gue potongin sendiri di rumah. Ckckck.. Tapi ya sudah lah yah.. anggap aja membayar untuk ngilmu cara mendiamkan agar bisa memotong dengan lebih leluasa. 

Dan, ide penghematan "potong poni pendekan dikit" karena banyak yang bilang aneh setelah melihat hasilnya, jadi ikut merasa bersalah sama si Anak. 

Last but not least, setelah membandingkan dengan foto terakhir, gue pun lebih suka model rambutnya yang lama! Baik lah.. selanjutnya Mama akan menolak desakan atau masukan pihak mana pun yang menyarankan rambut pendek untuk mu. 

Dan, potong rambutnya kembali ke salon Mama saja yah, Nak. Ikhlas ga ikhlas harus merogoh 150 ribu untuk jasa gunting rambut mu. Yang penting kan udah pernah ngerasain nyalon sambil duduk dalam mobil sambil nonton tv serta rambut lembut mu di blow sama profesional. Toh sentuhan tangan mama mu ini ga kalah sama si om dan tante di sana. 

Love you my Dora the Explorer! 


-Ling-