My Favorite

Favorite Place. Favorite Man.

Kunjungan Pertama

Kunjungan pertama ke negeri Singa. Bosan dengan Merlion, bergaya dengan latar landmark lainnya.

Onde Day!

Happy belated Onde Day!

Foto terpampang adalah Onde hasil percobaan kedua tahun ini. Onde yang dibuat pada tepat hari H semi-semi gagal, walaupun masih tetap enak.

Sedari pitik dan bisa mengingat, Onde yang gue dikenal ga ada isinya. Baru lah ketika di Jakarta ternyata Onde ada isi Kacang! Jadi, pada tahun ini berniat bikin Onde yang isi kacang juga.

Dengan bekal resep lama, rupanya susah sekali untuk membuat Onde yang pake isi. Adonan susah sekali dibentuk! Bikin satu Onde aja rasanya butuh kesabaran dan energi super. Dalam hati berpikir, ga heran Onde dijual mahal walau dibuat dari bahan super sedehana.

Dari keseluruhan adonan yang terbuat dari sebungkus tepung ketan sekitar 500gr, gue ngabur pada saat 30an butir! Itu pun tidak semuanya ada isi. Dan entah bagaimana ceritanya sampai akhirnya adonan hanya tinggal sedikit saja.

Oh yah, dari yang terbaca apakah terasa seakan gue banyak sekali andilnya dalam proses pembuatan Onde? Jika iya, maka telah terjadi kesalahan persepsi. Sebagian besar cerita ditulis dari sudut pandang nyokap! Gue cuma peran pembantu yang berasa jadi aktor utama dan numpang tenar dengan tema Onde. Hehehe

Jadi.. Nyokap yang memang pecinta Wedang Ronde penasaran dengan pembuatan Onde isi, yang dari cerita adiknya itu gampang buatnya. Pada waktu dan kesempatan yang ada, prakteklah beliau dengan bermodalkan resep dan tehnik yang selama ini dia ketahui. Gue mah apa.. Cuman berpartisipasi dalam membulatkan dan mencoba membuat Onde isi saja.

Hasil tak maksimal membuahkan berbagai klausul. Seperti adonan kurang air. Waktu jeda istirahat adonan kurang lama sampai kemungkinan tepung sudah kadaluarsa yang tetap dipaksakan meski angka yang tertera tidak berkata demikian.

Dan, ternyata semua salah air yang kurang panas. Untuk mendapatkan adonan kenyal yang bisa leluasa dibentuk harus mengunakan air panas. Dengan adonan baru semua terasa mudah. Harga Wedang Ronde pun langsung terasa tak masuk akal.

Tak tanggung. Semua Onde babak dua ini ada iainya! Nyam... Enak! Baru kali ini makan Onde sampai kenyang! Hampir 20 butir gue lahap. Hahaha..

Oh yah.. Satu bungkus tepung ketan bisa untuk sekitar 80an butir Onde ukuran sedang isi kacang. Sekedar catatan untuk pertimbangan membuat adonan kalo mau buat Onde tahun depan ^^

-Ling-

Rouge One

Ga nyangka!

Thanks to my lil sis yang menemani si bocah main jadinya punya kesempatan nonton di hari ke-2..

Sekali lagi pembuktian atas "jangan terlalu ngarap" malah membawa hasil. Ga ada persiapan nonton malah sukses tanpa perencanaan panjang. Dr. Strange yang ditunggu-tunggu dan disertai beberapakali percobaan malah gagal total. Ckckck..

-Ling-

Masuk Dus

Ditinggal cuci piring bentar eh tau-tau ada suara "Mama.. Odi ga bisa diam. Mama tolongin..". Buru-buru liat ke arah tangga. Kirain dia naik dan minta bantuan untuk turun. Lho kog nggak ada?!

Terdengar lagi suara yang kini sudah berubah jadi tangisan. "Mama, tolong..  Odi ga bisa..". Cari-cari.. Rupanya ada di kolong tangga dan terjebak dalam dus kaya gini. Mau marah mau ketawa. Ya sudah deh.. Sebelum ditolong diabadikan dulu. Dan, makin kencang pula lah tangisannya. Hahaha..

Eh ga ada kapoknya, tiap liat dus itu malah dengan pedenya cerita kalo dia pernah masuk situ dan nangis ga bisa keluar. Trus ambil ancang-ancang mau mencoba masuk lagi. Dasar two years old!

-Ling-

Papa Kerja?

Suatu malam di bulan September. Si Anak lagi mainan (baca: nonton video di YouTube) hape papanya.

Biar ga kelamaan main hape, si Papa beralasan, "Nak, uda yah mainannya. Papa mau kerja dulu". Dengan berat hati, hape pun diserahkan ke Papa dan dia mulai beraktivitas lainnya.

Lalu, cukup lama kemudian..

Anak mendekati Papa dan berkata, "Papa ga kerja lagi?". Papa yang senang ditanya begitu, dengan polos menjawab, "Nggak sayang, sudah selesai kerjanya. Kenapa?". Ternyata ketika bertanya, tangan si Anak sudah sambil pegang hape Papa. Skakmat. "Mau pinjam hape. Mau nonton playdoh (baca: Youtube)". Dan ngabur dengan senyum kemenangan khasnya. Mamanya cuma bisa nyengir menuju ngakak melihat aksi si bocah.

Tak bangga dengan kemelekatan Anak dengan hape. Bahkan sampai garuk kepala untuk berusaha melepas atau sekedar mengurangi. Tapi kalo uda kejadian begini, geli juga jadinya..

-Ling-

Cacingan

Anak ibu cacingan?
Anak saya iya!

Hua... Kaget bercampur shock dengan kenyataan melihat anak menggaruk pantat dengan muka meringis kesakitan sambil berucap "mama sakit, aduh sakit!".

Baru kemudian terpikir untuk memberinya obat cacing sirup dengan inisial merk C. Tak lupa yang tablet untuk semua penghuni dewasa di rumah. Katanya seh kalo mau mengobati cacingan anak para orang tua harus ikut minum juga.

Dari sini belajar istilah dosis tunggal. Jadi tidak seperti obat dari dokter atau obat sakit lainnya yang tertera 3x sehari atau 2x sehari, obat cacing hanya di minum 1x saja. Obat yang tablet atau kaplet, beli selempeng isi dua langsung dihabiskan sekali minum. Selesai.

Obat sirup sedikit lebih membingungkan buat awam macam saya. Meski ada keterangan dosis tunggal, buat yang belum pernah tetap saja masih bertanya-tanya. Karena sekali beli itu bukan satu takaran. Jadi jumlah yang akan diminum disesuaikan dengan umur dan berat badan anak. Sisanya disimpan.

Malam minum keesokan harinya masih mengeluh sakit. Berlanjut sampai keesokannya lagi. Meski frekuensi mengeluh sudah berkurang, tetap masih meragu. Efektifkah caranya? Tepatkah obatnya? Yah, pertanyaan emak lebay aka paranoid lah. Dengan sedikit sisa nalar, gue sendiri yang berlagak lupa telah mengajak si Bapake untuk membawa si Anake ke dokter. Berusaha menenangkan kepanikan dan desakan ke dokter yang tak perlu. *lumayan mahal euy..

Pada hari keempat, keluhan sudah tinggal sekali dua kali saja. Si Cacing yang menetap dalam perutnya sepertinya sudah keluar semua. Tinggal sisa bekas iritasi yang memerah di sekitar du*u* aja neh yang masi PR. Semoga bisa bertahan untuk tidak nyari dokter karena iritasi di daerah D aja neh. Ckckck

Baca-baca di artikel hasil nanya di Om Google, ada yang menuliskan, untuk membasmi cacing kremi ada baiknya untuk 1x mengulang minum obat setelah dua minggu. Alasannya karena telur cacing yang belum berhasil di basmi akan menetas menjadi cacing dalam waktu dua minggu. Jadi dosis tambahan ini untuk membasmi cacing-cacing yang baru menetas. Hemm.. Rupanya perjalanan dengan Cacing belum usai. Ada babak baru yang masih harus dimainkan. Semoga semua berjalan lancar dan bisa benar-benar tutup buku untuk urusan Cacing.

Jika ditanya awalnya bagaimana dan gejala apa yang tampak, cuma bisa menyebutkan beberapa poin berikut.

Sering memasukan tangan ke dalam mulut. Di sini logika sedikit muter-muter. Salah satu penyebab terjadinya cacingan karena cacing ikut terbawa masuk lewat mulut. Dan setelah cacingan, muncul keinginan lebih besar untuk memasukan jari ke dalam mulut. Entah apa kaitan cacingan dan keinginan memasukan jari ke mulut. 

Mengeluh sakit di daerah pantat. Ini mungkin bisa sakit karena iritasi larena tergaruk. Atau bisa juga sebenarnya rasa gatal yang timbul karena cacing sedang jalan-jalan keluar dari usus ke du*u*.

Tidur malam gelisah dan sering terbangun. Karena jam jalan-jalan sinCacing adalah malam, jadilah tidur tak nyenyak dan sering terbangun.

Dari artikel yang saya baca, ada poin nafsu makan menurun. Tapi karena sudah sejak lama nafsu makan si Anake sering naik turun, jadi poin ini luput dari perhatian.

Pembelajaran dari kasus kali ini adalah harus jeli melihat gejala. Apa yang disebutkan di atas memang seringkali dialami oleh Anak, tapi jika gejala di atas muncul pada saat bersamaan, maka perlu diwaspadai serangan Cacing kemungkinan sedang terjadi. Dan... Ternyata oh ternyata ada baiknya minum obat Cacing tiap enam bulan atau satu tahun. Hemm...

-Ling-

Si Cacing. Best of The Best

Bacaan di malam minggu yang ceria. Alasan kembali membuka buku setelah sekian lama absen membaca.

Review menyusul *kalo jadi update :P

Semoga semua makhluk hidup berbahagia..

-Ling-

Sapih

Jreng jreng jreng..

Saatnya memasuki fase baru dalam peran ibu. Menyapih si Anak. Pengalaman pertama yang satu ini ga kalah bikin galau dengan pengalaman ketika berdebar berharap tetes-tetes ASI segera mengalir dan menutrisi si newborn. Target tetap mampu untuk enam bulan dan kemudian dua tahun.

Setelah dua tahun berlalu, PR baru pun muncul. Saatnya mengakhiri masa-masa special dengan si Anak yang tak kan tergantikan ini. Dari pengalaman beberapa teman, acara gamsus yang satu ini memang tricky. Beberapa jurus andalan pun mereka bagikan.

Dengan pertimbangan tersendiri, diputuskan untuk memulai sejak h-30 dengan memberi pemahaman bahwa masa nenen akan segera berakhir. Nanti ketika sudah ultah artinya sudah bukan bayi lagi, udah gede. Jadi sudah ga nenen sama mama lagi.

Apakah berhasil? Keinginan untuk ultah serta-merta terkalahkan oleh keinginan nenen. Tiap kali diberitahu, jawabannya adalah "Ga mau ultah. Mau nenen aja".
Di saat lain begini lah jadinya. Tak menyuarakan keinginan untuk nenen, tapi sudah lebih dari 12 jam sejak bangun dan tak ada tanda-tanda mau tidur meski mata uda sisa lima watt saja.

Antara tega dan ga tega deh kalo uda liat anak sakaw begini...


-Ling-