My Favorite

Favorite Place. Favorite Man.

Kunjungan Pertama

Kunjungan pertama ke negeri Singa. Bosan dengan Merlion, bergaya dengan latar landmark lainnya.

Showing posts with label wisata. Show all posts
Showing posts with label wisata. Show all posts

Hangzhou: Hi and Bye Pai Su Cen

Masi ingat dengan Pai Su Cen, si Ular Putih? Di dalam pagoda ini lah dia dikurung oleh pendeta Fa Hai.

Perjalanan April lalu gue berkesempatan mengunjungi Hangzhou dan melihat pagoda ini dari kejauhan. Waktu sampai di depan pintu masuk area pagoda hari sudah sore dan sudah nyerah duluan membayangkan harus menaiki entah berapa anak tangga untuk bisa sampai ke pagoda, jadi diputuskan untuk menikmati dari bawah saja.

Setelah pulang ke Jakarta dan melihat foto fb saudara yang kebetulan dari Hangzhou juga, baru menyadari bahwa ternyata disediakan eskalator untuk sampai ke atas. Bagus.. ckckckck...

Yah, mungkin ini tandanya gue akan mendapatkan kesempatan balik lagi ke Hangzhou dan naik sampai ke pagoda ;) Sampai ketemu lagi Pai Su Cen!

-Ling-

2013 Pulkam Trip: Private Beach

Beach. We and only us. Private beach!! :D

This is a super late post from our "going home", pulang kampung, trip last August. Yeah, that August on 2013. Ugh, writting this make me miss it already. But, can we? So much things to prepare.

Back to the beach. It maybe not come with clear and blue water or clean white sand, but its our beach! And its a original beauty with lots of coconut tree and real sands. Not the one that you bought from other country. Oops! 

Anyway, please welcome our pics from Pantai Seruni, Jawai, Sambas, Kalimantan Barat. ;)

-Ling-

Four City


Second trip of the year, China. 

Postingan panjang kali lebar yang uda diketik tau-tau hilang ga berbekas. Jadi, singkat aja.

Perjalanan kedua bersama keluarga ini terwujud berkat tiket promo dari Mandala yang punya direct flight Jakarta-Hongkong. Penerbangan langsung yang murmer abis! Pulang-pergi berenam dua belas juta masih kembali. Jarang banget dah! Biasa yang namanya budget flight pasti lama ditransit yang akhirnya jadi bikin cape. Bener-bener lucky! 

Rencana awal begitu sampai Hongkong langsung lanjut ke Guangzhou. Baru kemudian dari Guangzhou menuju Shenzhen. Dari Shenzhen nyebrang ke Macau, terakhir baru masuk Hongkong lagi dan kembali ke Jakarta.

Dalam pelaksanaannya, empat kota yang dimaksud "menyesuaikan diri". Hongkong, Guangzhou, Shenzhen, dan Macau berubah menjadi Hongkong, Guangzhou, Hangzhou dan Shenzhen. Macau digantikan oleh Hangzhou. Yah, namanya juga jalan sendiri. Apalagi dari Jakarta cuma booking hotel di Guangzhou doang. Berubah lah rutenya.

Gue seh senang-senang aja dengan perubahan mendadak tersebut. Ketimbang mengunjungi Macau untuk kedua kalinya, tentu pelesir ke Hangzhou yang belum pernah dikunjungi lebih good deal dong. Yah, meski capek dan akhirnya malah banyak waktu yang kebuang karena perjalanan yang memang jauh. Tapi, pengalaman yang didapat seimbang. Berbagai jenis alat transportasi dicoba, MTR,bus, kereta api, sampai carter mobil.

Detail perjalanan masing-masing kota rencananya akan dibahas terpisah. Banyak cerita menarik yang layak dikenang soale ^^


-Ling-

Singapore: Last Merlion

Satu-satunya foto di Merlion Park yang tersisa *thanks to Line Camera* dari perjalanan pertama di tahun 2014, Singapore dan Johor Bahru, Malaysia. Hasil jeprat-jepret gaya kiri-kanan lainnya hilang tak berbekas. Memory card tiba-tiba ga terdeteksi. 

So, ga ada salahnya back up beberapa foto terbaik dengan kirim ke jejaring sosial atau email. Ga ada yang tau kapan memory card minta pensiun.


-Ling-

Singkawang: Choi Pan Sakkok

Choi Pan. Cemilan yang satu ini sudah tak asing bagi kalangan tertentu (baca: hakka). Dan sekarang juga sudah tak sulit menemukan makanan ini dipasaran. Apalagi di daerah Kerendang. Yah, kalo di mall mungkin masih jarang, masih pada tahap "tertentu".

Waktu pulkam alias pulang kampung libur lebaran lalu, gue diperkenalkan dengan "Choipan Sakkok" yang konon terkenal seantero Singkawang. Lokasinya tidak dipinggir jalan, jadi tidak akan tau kalo bukan ada yang mengarahkan. Apalagi kalo bukan orang lokal atau tidak pernah tau sebelumnya, rasanya sulit untuk bisa mencicipinya. 

Nama Sakkok gue ambil dari nama daerahnya. Mungkin orang sana ada yang mengenal choipan tersebut dengan menyebut nama penjualnya, yang mana gue ga tau. Waktu itu lupa nanyain. Ckckck

Mantapnya dari kuliner yang satu ini adalah, choipan dibuat sesuai pesanan. Jadi, kudu pesan dulu sehari sebelumnya. Dan, yang bisa dinikmati adalah sejumlah yang kita pesan. Ga bisa nambah. 

Tersedia dalam dua pilihan rasa, kucai atau bengkoang. Favorit gue, yang standar aja, bengkoang ^^ Ga ketinggalan es jeruk nipis yang segar. Tenang, kalo es jeruk ga perlu indent. Pastinya lagi, boleh nambah :P

Oh yah, jangan membayangkan tempat makan wah atau restoran besar. Tempatnya alami sekali. Pelanggan yang datang dipersilahkan untuk memilih tempat duduk diantara saung-saung yang ada. Bangunan utama merupakan dapur sekaligus tempat tinggal pemiliknya. 

Jika berkesempatan mengunjungi Singkawang, wisata kuliner yang satu ini boleh dimasukan kedalam daftar. Begitu sampai daerah Sakkok yang ada rumah makan "Mie Sakkok" di deretan ruko, tanya. Mudah-mudahan dikasi tau :P


-Ling-

Kuala Lumpur: Suria - Menara Petronas


Di Jakarta ada Monas, Kuala Lumpur punya Petronas. Menara Kembar kebanggaan Malaysia ini pasti menjadi top answer begitu muncul pertanyaan "mau lihat apa di Kuala Lumpur?".  Terlebih bagi pelancong yang baru pertama kali mengunjungi ibukota Malaysia seperti kami, saat itu.

Karena belum ada gambaran mau ngapain dan kemana saja, kami pun memutuskan Petronas sebagai tujuan pertama per-wisata-an kami.

Modal awal petualangan ini, free wifi supported by Red Paradiso Bed & Breakfast dan sobekan rute MRT (atau apapun namanya) dari free magazine yang gue ambil di bus. Lucky Us ^^ Kedua hal ini benar-benar menjadi penolong sejati bagi kami yang datang dengan informasi nihil.

Buat yang bermaksud menuju Petronas dengan menggunakan MRT, mohon perhatiannya. Line Pink dan Hijau TIDAK NYAMBUNG! Kalo nginapnya di jalur hijau, mending naik bus. Jangan ulangi kesalahan kami. Mau ambil jalan berputar atau memilih pindah jalur dipertengahan sama-sama bukan pilihan menyenangkan. Buang waktu dan biaya versus buang tenaga alias bikin capek. Antara stasiun satu dengan yang lainnya jauh banget.

Lagi pula ada bus gratisan yang disediakan untuk mencapai Petronas. Sayangkan kalo disia-siakan. Hemat waktu, hemat biaya dan hemat tenaga pula. Bus berhenti tepat didepan mall Suria. Tinggal turun langsung foto-foto. Eh, samakan tujuan kita ke Petronas? :P

Oh yah, catatan penting buat yang akan menuju Petronas menggunakan MRT. Begitu keluar pintu mall, langsung aja tengok ke atas. Jangan ulangi kesalahan kami yang satu ini juga. Udah sampai, masih bolak-balik nyariin si menara kembar, padahal udah berada didalamnya *tepok jidat

Akhir kata, selamat foto-foto! *teuteup.. hehehe..

-16.11.12-

PS. Original Trip 16.11.12.


-Ling-

Genting Tak Jadi

Banyak pesan sponsor yang menyarankan untuk tidak melewatkan Genting Highland jika mengunjungi Malaysia. Kami pun berpikiran demikian. Genting masuk dalam daftar tujuan wisata kami selama di Malaysia.

Dari cerita "kamar sebelah" kami pun berencana untuk sampai sepagi mungkin di stasiun bus lalu membeli tiket untuk menuju Genting.

Entah apa yang tersangkut di otak, tulisan KL Sentral - LCCT di brosur terbaca KLCC - LCCT. Jadi, stasiun bus yang kami tuju pun "pindah" ke KLCC. Alhasil nyasar!

Bermodalkan bahasa Upin-Ipin setengah jadi, dengan pedenya gue bertanya ke seorang "akak" yang sedang menunggu bus. Inti pertanyaannya, "tempat naik bus untuk ke Genting di sisi mana?".
Bagus begitu sampai KLCC kami tidak langsung mencari lokasi pangkalan bus tempat kami turun pada malam sebelumnya. Jawaban yang didapat cukup membuat kami sadar bahwa kami menuju "pusat" yang salah. (KLCC = Kuala Lumpur Convention Centre. Sentral = pusat = centre).

Tak sulit untuk mencapai KL Sentral dari KLCC. Keduanya berada pada jalur Pink, Kelana Jaya. Tapi, "kesasar" babak dua dimulai ketika kami mencari loket penjualan tiket bus KL Sentral - Genting.

Sepertinya ada yang salah dengan proses penyerapan informasi di hari itu. Kami baru menemukan loket dengan tulisan "Resort World Genting" setelah 3x bertanya. Padahal loket yang dicari masih dalam bangunan yang sama dengan stasiun KL Sentral tempat kami turun MRT.

Tiba di depan loket sekitar jam sembilan, tiket yang dijual untuk keberangkatan 11.30. Begitu selesai membayar, diinformasikan kalo cable car sedang maintenance, perjalanan akan dilanjutkan dengan bus. Langsung malas mendengarnya.

Perjalanan KL Sentral - Genting memakan waktu sekitar dua jam. Kata "internet" untuk naik keatas kalo bus butuh satu jam. Langsung lemes setelah konfirmasi ke si penjaga loket. Jawabannya sama.
Total waktu sekali jalan tiga jam. Sedangkan bus terakhir dari Genting 7.30, belum dikurangin satu jam untuk turun. Waktu tersisa hanya empat jam untuk berkeliling. Mana puas!?!

Dilema pun melanda meski tiket udah di tangan. Keinginan untuk mengunjungi vs waktu mepet + cable car tak beroperasi.

Sambil berpikir, kami mencari loket bus KL Sentral - LCCT. Ceritanya untuk mempermudah ketika nanti mau menuju bandara. Kejutan untuk kita semua, kami kembali berputar-putar alias nyasar. Plang yang ada bukannya membantu malah jadi bikin bingung. Yah, kalo diingat-ingat ini karena disekitar loket sedang dalam perbaikan. Jadinya beberapa sisi terlihat tidak meyakinkan dan kami simpulkan sebagai "bukan di sana" dan berputar mencari di sisi lain bangunan.

Waktu yang tadinya banyak, terpakai dengan sangat cepat selama kami mencari lokasi loket. Tenaga pun cukup terkuras. Lalu, waktunya makan! :D

Selesai makan, meski masih ragu mau pergi atau tidak, kami mecari lokasi untuk naik bus. Dan, sekali lagi, kami tidak bisa menemukannya sebelum kembali bertanya. "Hidup bertanya!"

Sampai di lokasi jam 11 kurang. Nunggu-nunggu belum ada tanda-tanda mau berangkat. Teringat perjalanan 2 jam + 1 jam, diputuskan untuk ke toilet dulu.

Apa yang terjadi kemudian? Toilet rame banget! Udah gitu airnya pada mati. Alhasil, tiba kembali di tempat naik bus, bus udah mau jalan.

Ketika mau naik, dicegat sama yang jaga. Katanya "harus ada 10 menit sebelum keberangkatan". Karena uda lewat dari waktu yang diminta, jadi seat dia jual lagi ke orang lain. Di suruh nunggu untuk naik bus selanjutnya, pukul 12.00. Udah gitu, itu pun kalo ada seat. Kalo ga ada ga bisa naik. Bagus!!

Peraturannya keren banget dah. Terus ketika liat lagi tiketnya, yang tertera itu "please wait 10 minute before departure". Ternyata di Malaysia, "please" = "harus". Udah gitu dengan bangganya tuh penjaga menyebut kata seat dia jual ke penumpang lainnya. Ckckck

Ya udah lah yah, RM 4.5 x 2 doang. Mana emang udah ragu sejak tiket di tangan. Back up plan, Ikea! :D

Leaving Malaysia without visiting Genting, give us a reason to come back ^o^

Agar tak ada yang bernasib sama dengan kami lagi, berikut cara menuju loket tiket bus KL Sentral - Genting Highland, bagi yang mencapai KL Sentral dengan naik MRT.
  1. Turun di stasiun KL Sentral, ikuti plang "keluar"
  2. Setelah mengembalikan "koin" MRT, ambil arah kiri. Lurus terus sampai ketemu eskalator
  3. Begitu sampai di atas, ambil arah kiri menuju loket Airasia. Berhenti di depan pintu masuk (± 1 meter) konter Airasia. Loket tiket berada di sisi kanan.

Untuk yang naik taksi/bus dan turun di depan pintu utama (tempat turun Aerobus), ambil arah kanan. Jalan menuju loket Airasia. Berhenti di depan pintu masuk (± 1 meter) konter Airasia. Loket tiket berada di sisi kanan.

Semoga perjalanan Anda menyenangkan..


-Ling-

Camping. Tambahan

Baru pindah-pindahin foto lagi dari ponsel, suka deh sama yang satu ini

 

Foto ini diambil Desember lalu waktu ngekor si Kamu camping ke Cipelang. Ternyata jepretan yang satu ini keren juga ^^

Informasi tambahan, salah satu menu utama selama di sana.. Indomie pake telor! Mantab bener dimakan pas dingin-dingin. Nyammm..

Hemm.. kapan yah camping lagi?? *buzz si Kamu



-Ling-

Kebun Raya Bogor

"Kalo lagi pacaran ga boleh ke Kebun Raya Bogor, nanti bisa putus", kata si Kamu. Jadilah ga pernah mampir melihat keindahan alam yang satu ini meski udah berkali-kali ke Bogor.

Kebetulan di hari Valentine yang lalu karena satu dan lain hal gue ke Bogor dan ga ada rencana mau belanja, jadilah mampir ke Kebun Raya Bogor. Kebiasaan banget kalo lagi ga perlu kita akan lalu-lalang berkali-kali dan begitu mencari, kudu mutar-mutar dulu. Setelah berputar cukup lama, akhirnya kami temukan juga pintu masuknya.

Perorang dikenakan Rp. 9.500,- dan mobil Rp. 15.500,-. Sepertinya harga tiket masuk hari kerja berbeda dengan akhir pekan. Di tiket tertera "Tiket Masuk Hari Kerja", kalo perginya hari Sabtu atau Minggu, mungkin akan tertera "Tiket Masuk Akhir Pekan" ^^
Pemandangan sekililing cukup rindang. Jika berada di dalam, tak menyangka sedang berada di tengah kota Bogor. Yah, meski pada beberapa bagian kita masih bisa melihat bayangan kendaraan yang melintas dibalik tanaman.

Suasana hari itu bisa terbilang sepi. Hanya ada sekitar 10 - 15 kelompok pengunjung yang berpapasan dengan kami. Ada yang datang bersama keluarga, teman dan juga pasangan (dari usia, sepertinya pacar dan bukan suami-isteri *kepoh mode on). Selain wisatawan domestik, tampak juga warga asing yang didampingi oleh tour guide.

Untuk berkeliling, selain jalan kaki, kendaraan diijinkan masuk. Kami masuk dengan kendaraan dan berhenti dipinggir jika ada yang menarik perhatian kami. Pertama kali berhenti tak jauh dari pintu masuk. Kami tertarik melihat daun teratai yang besar ditengah danau.

Tak lama kami melanjutkan perjalanan dan berhenti di suatu tempat. Bingung menjelaskan, langsung liat foto aja yah.. ^^  Jalan setapak beratap tanaman merambat.

Di sekitar situ ada bunga yang cukup familiar. Tapi, apa yah namanya?


Selanjutnya kami kembali berhenti di depan bangunan yang sepertinya untuk penelitian. Kami mampir ke bangunan sebelahnya, numpang toilet :P

Disekeliling rumah tempat kami masuk *ga ada foto, ada tanaman yang belum pernah kami lihat. Bentuknya cukup unik.  

Ada juga yang sering dilihat dan dijadikan mainan waktu masih kecil dulu. Hemm.. jangan tanya apa namanya yah :P

Perjalanan selanjutnya, mencari Jembatan Merah legendaris yang katanya pasangan lewat sana bisa putus. Di sini cukup banyak pengunjung yang berkumpul dan foto-foto. Gue ga turun karena gerimis lumayan besar. Ga mau ambil resiko masuk angin, jadi cuma nunggu di mobil. Jadi, ga ada foto yang bisa diupload.

Dari jembatan merah, kami berniat melihat bunga Rafflesia alias bunga Bangkai yang ternama. Sayang bunga yang mekar tiap 3-4 tahun itu udah layu. Kami terlambat 10an hari. Jadinya hanya bisa mendapatkan foto berikut ini.

Ternyata lumayan juga lho meski cuma melihat layuan bunga. Karena kalo lagi ga berbunga, kita hanya akan menemukan dataran tanah atau batang pohon saja. Menurut salah satu petugas, tanaman yang satu ini cukup unik, ada siklusnya gitu. Bunga - umbi/tanah - pohon - umbi/tanah - bunga. Atau kadang bisa juga, bunga - umbi/tanah - pohon - umbi/tanah - pohon - umbi/tanah - bunga.

Pengunjung tidak diperkenankan berada terlalu dekat dengan si Bunga. Ada pembatas pagar sekitar 3-4 meter. Di pagar disediakan papan informasi mengenai si Bunga langka.

Ada sembilan bunga yang dibudidayakan di Kebun Raya Bogor, jadi kalo mau melihat ga harus menunggu sampai 3-4 tahun. Lupa pastinya, yang pasti sembilan bunga tersebut tidak mekar pada saat yang bersamaan.

Hal menarik lainnya adalah jalan setapak menuju si Bunga. Batu-batu disusun sedemikian rupa jadi berbentuk deretan bunga. Dan, ternyata batu bunga ini tidak hanya di satu tempat. Salut juga sama pengelola yang memperhatikan sampai sedetail ini.

Perjalanan dilanjutkan tanpa tujuan. Lalu kami berhenti di kaktus area. Sepertinya kawasan ini di namakan Taman Mexico. Ada beragam jenis kaktus disepanjang jalan yang kami lewati. Berikut beberapa yang sempat terfoto.

Ada kaktus yang berbunga juga lho.. 
Tak jauh dari area kaktus, ada satu pohon besar yang cukup menarik buahnya kurus-panjang gitu.

Sebelumnya ga ikut liat Jembatan Merah, eh ketemu jembatan merah versi kecil ^^ Kalo berdiri di jembatan merah ini bisa melihat jalan raya.

Dari area kaktus, kamu berhenti ketika melihat pohon melengkung ini. Sepertinya bagus untuk foto-foto hehehehe... 
 

Sebelum berhenti untuk foto, di dalam mobil sudah membicarakan mengenai pasangan muda yang sedang berpelukan di jalan yang kami lewati. Maklum, perginya bersama para ibu-ibu yang notabene bawel. Apalagi yang berhubungan dengan kemeraan ditempat umum. Waktu mau meninggalkan lokasi, eh, dapat angle bagus! Jadi lah kepoh babak dua.. hihihihihi

Hari semakin sore. Kami bermaksud mengunjungi Rumah Anggrek, namun gagal. Berkali-kali mutar tapi ga ketemu. Dalam perjalanan menuju Rumah Anggrek malah melihat pohonn unik yang berwarna merah keemasan ini. Dari akar sampai ujung pohon semuanya sama. Pohon ini sangat tinggi. Sampai-sampai tidak bisa mendapatkannya dalam 1x jepretan.

Sampai akhir kami masih tak menemukan si Rumah Anggrek. Bangunan terakhir yang kami tuju ternyata adalah Restoran & Cafe. Tempat mempunyai pemandangan indah. Tanah lapang penuh rumput hijau menjadi halamannya.

Diujungnya terdapat kolam yang dihiasi teratai. Lebih besar dari yang kami liat ketika baru masuk.
 

Ini adalah perhentian terakhir kami. Katanya Kebun Raya Bogor tutup jam 5 sore. Kami pun mencari jalan keluar. Dan, ketika kami keluar, malah melihat ada kendaraan yang masuk tanpa harus membeli tiket. Sepertinya tempat kami keluar menjadi pintu masuk bagi yang mau mengunjungi Restoran & Cafe tadi. Sepertinya, ga tau juga.. 


-Ling-

Dokcilo: Singapore Day 2

Dokcilo visit Singapore Day 2 routes.

Tujuan pertama dan utama perjalanan kali ini adalah dalam rangka urusan dinas, maka aktivitas pertama adalah ngantor. Dan, begini lah gaya Dokcilo lagi (belaga) ngantor.
-Dokcilo: At Office-
Walo dalam rangka kerja, tapi uda sampe kalo ga jalan-jalan rugi bandar dong. Pagi sampe sore di kantor, malam hari, saatnya jalan-jalan ^^

Tujuan malam ini seharunya ke Merlion Park dulu, biar Cilo ga ngiri sama Cile. Tapi karena jarak MRT terdekat semuanya jauh, si Kamu malas jalan. Jadinya langsung menuju kawasan China Town yang mana keluar MRT udah penuh keramaian.
-Dokcilo: Pagoda Road, China Town-
Ingat jalan, tak boleh lupa makan :D
-Dokcilo: Smith Road, China Town-
Rute selanjutnya, Clarke Quay, terpaksa dibatalkan mengingat besok masih harus ngantor. Hemm.. Besok malam Dokcilo bakal diajak kemana yah? Can't wait! Can't wait!


-Ling-

Flipflop and Casino

Flipflops are not allowed at Marina Bay Sands Casino. But, if you walk in confidently, show your passport to the officer, (hopefully) you can pass. Just try! Who knows its your lucky day ;)

I made it ^^ And, it was fun in there. Those modern gambling machines look so cool. And.. Very tempting to try! Hehehe.

Oh, an interesting thing happen while we were in the Casino. An aunty failed to experience winning her prime prize on the "Lucky Wheel". The Casino's supervisor canceled the game because "the pointer not pointing straight enough", he said. Weks! Sounds unfair for me.


-Ling-

Dokcile: Adventure D-3

Cile posing at Sky Park.


-Ling-

Dokcile: Singapore D-1

Laporan pertama Adventure of Dokcile at Singapore.

Hal pertama yang dilakukan begitu menginjakan kaki di bandara Changi, Singapore, cari akses internet! Hehe

Eh, yang paling utama cari tempat makan untuk isi perut deh :P Dalam perjalanan, ga sengaja menemukan Kios Internet Gratis yang sebelahan sama Kios Colokan.

Untuk bisa mengakses Free Wifi dengan gadget sendiri, para penumpang harus meminta uid dan password ke bagian Informasi.

Habis makan, area tersebut pun menjadi lokasi peristirahatan kami sampai pagi menjelang..


-Ling-

Camping!

Yeay, finally.. Blue Tent doing its real job!

We are camping at Bumi Perkemahan Cipelang.

Happy! Happy! Happy! :D


-Ling-

Kawah Putih

Sekian lama mendengar tentang keindahan Kawah Putih, Bandung, akhirnya kesampaian juga melihat langsung ke sana. Tak sia-sia melakukan perjalanan yang tujuan utamanya mengantar saudara ini. Nyenengin orang sekalian nyenengin diri sendiri :)

Tak seperti biasa yang kalo berangkat pasti rombongan, kali ini kami hanya berangkat berempat. Meski lebih seru kalo pergi rame-rame, tapi berempat memberikan pengalaman tersendiri. Bisa dibilang double date bersama om dan tante ^^

Selain foto-foto, tak banyak yang bisa dikerjakan di Kawah Putih. Waktu yang disarankan untuk foto-foto menikmati mahakarya alam yang satu ini hanya sekitar 15 menit atau sampai tenggorakan terasa kering. Kalo ga salah inget, kemaren itu kami berada di sana lebih dari waktu yang disarankan :P

Berikut beberapa hasil jeprat-jepret di Kawah Putih

Nasib berpergian dengan orang tua gaptek, ga ada yang bisa fotoin balik :( Selama perjalanan hari itu, hanya satu foto ini yang isinya Kami berdua! Itu pun udah pake crop untuk membuang jempol sang fotografer yang ikut tertangkap kamera hahahaha..
-Satu-satunya foto Kami di Kawah Putih-
Oh yah, ada opsi wisata hemat buat yang mau ke Kawah Putih dengan kendaraan pribadi, terlebih bagi yang berpergian hanya 2-4 orang. Sebelum masuk pintu loket, ambil ke arah kanan. Parkir kendaraan di sana, lalu membeli tiket dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum yang telah disediakan.

Jika melanjutkan perjalanan dengan kendaraan pribadi dikenakan biaya tambahan Rp 150.000,- per mobil diluar tiket masuk wisata Rp 15.000,- per orang. Padahal kalo naik kendaraan umum, hanya Rp 25.000,- untuk tiket masuk dan ongkos. Lumayan kan selisihnya? Jangan ulangi kesalahan kami!
-Kawah Putih: Terminal / Halte-
Pesan khusus kalo ada yang mau ke sana, Strawberry-nya manis-manis! Harganya pun lebih murah dibandingkan dengan yang di Situ Patengan. Kalo punya waktu, boleh juga tuh melanjutkan perjalanan ke Situ Patengan. Lokasinya tidak terlalu jauh kog ^^


-Ling-