My Favorite

Favorite Place. Favorite Man.

Kunjungan Pertama

Kunjungan pertama ke negeri Singa. Bosan dengan Merlion, bergaya dengan latar landmark lainnya.

Showing posts with label pengalaman. Show all posts
Showing posts with label pengalaman. Show all posts

Delivery AW

AW... AW... AW...

Kapan dan di mana biasanya mampir dan makan di restoran yang satu ini? Satu, Mega Mall aka Pluit Village, Pluit. Khususnya foodcourt lantai empat. Dua samping TMII. Tiga, Pancoran Toko Tiga. Selain itu kayanya ga ada lagi.

Pesan antar? Hemm, tau bisa pesan antar seh memang sudah lama. Nomor telpon 14061 malah udah disimpan, tapi belum pernah nyoba sampai sekarang. Jadi cerita berikut ini judulnya adalah pengalaman pertama.

Berawal dari rasa lapar dibarengi oleh malas masak dan ga tau makan apa, dibuka deh daftar nomor telpon di gagang wireless. Jangan tanya yang disimpan nomor apa aja. Hehehe.. Bosan sama yang biasa jadi favorit, jadilah milihnya AW sambil ngebayangin Mozza.

Begitu berbicara dengan operator, langsung terasa perbedaannya dengan 14045 atau "hunger sos". Kalah canggih dan kalah piawai langsung terlintas dalam benak. Selesai pesan, dikasi informasi 50 menit sampai.

Setelah itu ga ada telpon konfirmasi pemesanan. Dan setelah lebih dari 50 menit masi juga ga ada yang mencet bell rumah. Atas dasar dorongan lapar yang semakin ganas, gue suruh si adik yang menelpon. Eh, ternyata yang ditunggu akhirnya datang juga.

Makanan diterima oleh sang adik yang mana sang kakak sedang sibuk menyuapi sang anak. Dan, eng ing eng... Kaget pertama, bon dengan tulis tangan. Alasannya mesin sedang rusak. Kaget dua, voucher rootbeer yang dijanjikan ketika melakukan pemesanan sudah expired! Kadaluarsa.

Kurirnya seh memang belum pulang, tapi ya sudah lah yah.. tega amat disuruh balik lagi cuma karena voucher rootbeer aja. Kalo Mozza mungkin beda cerita. Hahaha..

Kaget tiga, makan sambil menatapi bon dan voucher expired, baru sadar. Mahal juga yah paket dua ayam dengan kentang dan rootbeernya :P Jadi sebel sendiri menerima tawaran operatornya untuk ambil paket. Soalnya niat awal itu maunya paket dua ayam saja. Bukannya dua ayam dengan kentang dan minum.

Sepertinya ini akan menjadi pengalaman pertama dan terakhir gue berhubungan dengan 14061. Combo 3x soale. Hahaha..


-Ling-

Serangan SMS

Beberapa hari lalu, nomor ponsel yang ga pernah disebarluaskan kemana-mana mendapat "serangan" dari seseorang yang diduga abege super galau. 
-Serangan SMS Abege Galau-

Modus operandi cukup sederhana. Dengan sangat sengaja mengirimkan sms sok kenal ke nomor yang dikarang secara acak atau mungkin juga jika nomor tersebut didapat dari hasil bertapa. 

Entah karena dorongan apa, ngirim sms pun super niat. Lima sms dalam waktu ga sampai 15 menit. Merasa terganggu? Ga usah ditanya lagi. Secara nomor yang diserangan ini hanya untuk kalangan terbatas. Jadi kalo bunyi atau ada sms masuk pastinya bukan spam. Yah, kecuali sms notifikasi dari provider. 

Sejak menjadi target serangan, ergh!! Grrrr... rasanya mau makan enak tiap kali ngecek sms. Kirain ada sms penting, ternyata yang masuk adalah sms ga jelas dan berulang-ulang. 

Bermaksud menahan serangan dengan jurus "gue ga kenal loe, ga usah sms lagi", gagal total. Malah makin menjadi. Hmm atau mungkin memang serangan selanjutnya seperti itu, kurang tau juga. Soale ga pernah mendengar cerita atau amit-amit mengalami sebelumnya jadi ga bisa membandingkan.
-Jurus Penangkal ver 1.0. Gagal-

Membiarkan sms masuk sampai dia bosan sendiri, juga bukan cara mengatasi yang tepat. Menghubungi pihak provider? Masih tet tot juga. Ternyata pihak penyelenggara telekomunikasi kita masih belum bisa melakukan blokir atau memberikan jawaban atas terganggunya privasi pelanggan. Kecuali sms penipuan. Bisa dikirimkan ke nomor BRTI. Kirim doang, selanjutnya ga tau juga.

Kalau merasa terganggu dengan sms masuk yang tidak diinginkan, satu-satunya cara adalah menghubungi pihak berwajib. Yang mana kita pun tau sama tau prosedur dan cara kerjanya. Semua mengikuti UUD.

Tiba-tiba jadi kepikiran modus operandi sms yang berisi informasi nomor rekening yang dikirimkan secara acak. Sepertinya itu aman dari jeratan hukum. Pihak provider membiarkan SMS nyasar. Salah transfer cuma bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Pihak bank ga bisa mengeluarkan permintaan tarik kembali. 

Jadi kalo ada yang salah transfer kita diamkan saja. Itu hak kita. Ga akan ditarik lagi oleh pihak bank. Hmm patut dicoba ga yah? Hihihihihi... 

Kembali mengenai "serangan" abege galau. Mereka itu beneran gigih lho. Meski tidak mendapat balasan  setelah mengirimkan lebih dari 100 pesan tetap tidak patah semangat. Andai semangatnya ditujukan kepada hal lain yang lebih positif.
-Rentetan SMS. 1/10 dari SMS yang Masuk-

Mau tau senjata ampuh yang tepat untuk menahan "serangan" seperti ini? Minta tolong teman lelaki, abang, bapak, suami atau preman pasar kenalan untuk memakinya. Balas dua atau tiga kali. Lalu diamkan. Serangan pun berhenti. 
-Jurus Penangkal ver 2.0. Berhasil. H+3 Aman dari Serangan-

Abege oh abege.. ga paham banget deh sama jalan pikirannya. Sampai segitunya pengen cari teman sms-an. Semoga semua abege segera terbebas dari virus galau deh. Pusing kalo kena serangan dari abege galau lainnya lagi.


-Ling-

Genting Tak Jadi

Banyak pesan sponsor yang menyarankan untuk tidak melewatkan Genting Highland jika mengunjungi Malaysia. Kami pun berpikiran demikian. Genting masuk dalam daftar tujuan wisata kami selama di Malaysia.

Dari cerita "kamar sebelah" kami pun berencana untuk sampai sepagi mungkin di stasiun bus lalu membeli tiket untuk menuju Genting.

Entah apa yang tersangkut di otak, tulisan KL Sentral - LCCT di brosur terbaca KLCC - LCCT. Jadi, stasiun bus yang kami tuju pun "pindah" ke KLCC. Alhasil nyasar!

Bermodalkan bahasa Upin-Ipin setengah jadi, dengan pedenya gue bertanya ke seorang "akak" yang sedang menunggu bus. Inti pertanyaannya, "tempat naik bus untuk ke Genting di sisi mana?".
Bagus begitu sampai KLCC kami tidak langsung mencari lokasi pangkalan bus tempat kami turun pada malam sebelumnya. Jawaban yang didapat cukup membuat kami sadar bahwa kami menuju "pusat" yang salah. (KLCC = Kuala Lumpur Convention Centre. Sentral = pusat = centre).

Tak sulit untuk mencapai KL Sentral dari KLCC. Keduanya berada pada jalur Pink, Kelana Jaya. Tapi, "kesasar" babak dua dimulai ketika kami mencari loket penjualan tiket bus KL Sentral - Genting.

Sepertinya ada yang salah dengan proses penyerapan informasi di hari itu. Kami baru menemukan loket dengan tulisan "Resort World Genting" setelah 3x bertanya. Padahal loket yang dicari masih dalam bangunan yang sama dengan stasiun KL Sentral tempat kami turun MRT.

Tiba di depan loket sekitar jam sembilan, tiket yang dijual untuk keberangkatan 11.30. Begitu selesai membayar, diinformasikan kalo cable car sedang maintenance, perjalanan akan dilanjutkan dengan bus. Langsung malas mendengarnya.

Perjalanan KL Sentral - Genting memakan waktu sekitar dua jam. Kata "internet" untuk naik keatas kalo bus butuh satu jam. Langsung lemes setelah konfirmasi ke si penjaga loket. Jawabannya sama.
Total waktu sekali jalan tiga jam. Sedangkan bus terakhir dari Genting 7.30, belum dikurangin satu jam untuk turun. Waktu tersisa hanya empat jam untuk berkeliling. Mana puas!?!

Dilema pun melanda meski tiket udah di tangan. Keinginan untuk mengunjungi vs waktu mepet + cable car tak beroperasi.

Sambil berpikir, kami mencari loket bus KL Sentral - LCCT. Ceritanya untuk mempermudah ketika nanti mau menuju bandara. Kejutan untuk kita semua, kami kembali berputar-putar alias nyasar. Plang yang ada bukannya membantu malah jadi bikin bingung. Yah, kalo diingat-ingat ini karena disekitar loket sedang dalam perbaikan. Jadinya beberapa sisi terlihat tidak meyakinkan dan kami simpulkan sebagai "bukan di sana" dan berputar mencari di sisi lain bangunan.

Waktu yang tadinya banyak, terpakai dengan sangat cepat selama kami mencari lokasi loket. Tenaga pun cukup terkuras. Lalu, waktunya makan! :D

Selesai makan, meski masih ragu mau pergi atau tidak, kami mecari lokasi untuk naik bus. Dan, sekali lagi, kami tidak bisa menemukannya sebelum kembali bertanya. "Hidup bertanya!"

Sampai di lokasi jam 11 kurang. Nunggu-nunggu belum ada tanda-tanda mau berangkat. Teringat perjalanan 2 jam + 1 jam, diputuskan untuk ke toilet dulu.

Apa yang terjadi kemudian? Toilet rame banget! Udah gitu airnya pada mati. Alhasil, tiba kembali di tempat naik bus, bus udah mau jalan.

Ketika mau naik, dicegat sama yang jaga. Katanya "harus ada 10 menit sebelum keberangkatan". Karena uda lewat dari waktu yang diminta, jadi seat dia jual lagi ke orang lain. Di suruh nunggu untuk naik bus selanjutnya, pukul 12.00. Udah gitu, itu pun kalo ada seat. Kalo ga ada ga bisa naik. Bagus!!

Peraturannya keren banget dah. Terus ketika liat lagi tiketnya, yang tertera itu "please wait 10 minute before departure". Ternyata di Malaysia, "please" = "harus". Udah gitu dengan bangganya tuh penjaga menyebut kata seat dia jual ke penumpang lainnya. Ckckck

Ya udah lah yah, RM 4.5 x 2 doang. Mana emang udah ragu sejak tiket di tangan. Back up plan, Ikea! :D

Leaving Malaysia without visiting Genting, give us a reason to come back ^o^

Agar tak ada yang bernasib sama dengan kami lagi, berikut cara menuju loket tiket bus KL Sentral - Genting Highland, bagi yang mencapai KL Sentral dengan naik MRT.
  1. Turun di stasiun KL Sentral, ikuti plang "keluar"
  2. Setelah mengembalikan "koin" MRT, ambil arah kiri. Lurus terus sampai ketemu eskalator
  3. Begitu sampai di atas, ambil arah kiri menuju loket Airasia. Berhenti di depan pintu masuk (± 1 meter) konter Airasia. Loket tiket berada di sisi kanan.

Untuk yang naik taksi/bus dan turun di depan pintu utama (tempat turun Aerobus), ambil arah kanan. Jalan menuju loket Airasia. Berhenti di depan pintu masuk (± 1 meter) konter Airasia. Loket tiket berada di sisi kanan.

Semoga perjalanan Anda menyenangkan..


-Ling-

Ramen yuk


Belakangan ini restoran Jepang yang mengkhususkan diri ke ramen -mie Jepang- memang sedang menjamur. Alhasil, gue pun terjangkit jamurnya.

Dan, pada suatu sore, terjadilah pembicaraan berikut ini.

Ling: Ramen yuk.. 
Kamu: Ga ah, mahal
Ling: Masa seh? Sushi juga mahal lho
Kamu: Beda lah

Ling: Ini ramennya beneran enak. Kuahnya maknyos banget
Kamu: Tetap aja, mie doang 50 ribu
Ling: Hemmm..

Mendapat jawaban seperti itu jadi mikir. Memang seh berasa banget mahalnya kalo dibandingkan dengan harga seporsi mie lokal. Apalagi kalo dibandingkan dengan mie ayam "abang". Tapi, tetap aja.. Ckckck

Oh yah, pembicaraan di atas itu gue bermaksud ngajak si Kamu untuk ke Ikkousha Ramen. Waktu itu nyobain, dan sekarang pengen lagi. Who can resist this..?? ;)

-Ikkousha Ramen-


-Ling-

Kartu Keberangkatan/Kedatangan

Regulasi baru dari imigrasi Indonesia. Kalo mau melakukan perjalanan keluar negeri, ga perlu lagi mengisi dan menunjukan kartu keberangkatan/kedatangan ketika melewati imigrasi di bandara Soekarno - Hatta. Apapun fungsi dari si kartu tesebut, kini digantikan oleh boarding pass.

Meski demikian, kartu Imigrasi negara tujuan tetap harus diisi. Dan akan dibagikan ketika melewati boarding gate. Prosedurnya masih tetap sama dengan yang lama. Satu potong diambil ketika melewati imigrasi pada saat tiba dinegara tujuan, dan satu lagi ketika pulang.

Entah kebetulan atau memang menjadi lebih baik, kemaren ini ketika akan melewati imigrasi, antriannya tidak lagi mengerikan. Meski tak sekosong ketika antri di Singapore, 4-5 orang rasanya masi bisa dimaklumi.

Hem, apakah ini imbas dari kejadian beberapa waktu lalu? Perseteruan antara pejabat dengan petugas imigrasi yang sempat dimuat harian nasional terkait tentang antrian yang mengular serta arogansi untuk lewat jalur VIP.

Apa pun alasan dibaliknya, selama membawa hikmah positif patut disyukuri. Sekarang, tinggal tunggu realisasi monorail dari bandara ke kota, yang pernah marak beberapa waktu lalu *ngarep banget


-Ling-

Gangguan Jaringan


Masalah gangguan jaringan seringkali dihadapi oleh para pengguna ponsel. Entah itu signal lemah atau ga dapat signal yang kemudian menyebabkan pengguna tidak bisa menghubungi atau pun dihubungi. Paling keki kalo udah bayar biaya berlangganan tapi ga bisa memanfaatkan. Apalagi kalo yang hitungannya per hari. Kerugian materil pelanggan..

Gangguan lain yang juga dikarenakan oleh jaringan adalah "nada sibuk". Meski nomor yang dituju sedang tidak digunakan, tapi ketika dihubungi mendapat jawaban "nomor yang Anda tuju sedang sibuk. Silahkan hubungi beberapa saat lagi". 

Menyebalkan. Salah-salah malah bisa menyebabkan keretakan hubungan karena kesalahpahaman "nada sibuk". Ga berlebihan, coba bayangkan. Si A tidak bisa menghubungi pasangannya karena meski sudah berkali-kali coba tapi mendapat balasan "nada sibuk". Ketika ditanyakan pada si B, pasangannya, "ponsel seharian ga ada yang menghubungi".

Fakta si A tidak cocok dengan fakta si B. Tentu masing-masing akan keukeh dengan pendirian masing-masing. Keretakan hubungan tentu bukan tak mungkin terjadi jika demikian. Kerugian moril pelanggan.

Gangguan jaringan jenis baru saya alami beberapa waktu lalu. Kalo ga mengalami sendiri pun tak percaya rasanya. Ponsel berdering. Signal penuh. Begitu diangkat, suara yang menelpon tidak bisa terdengar. Begitu loud speaker diaktifkan, suara masuk. Coba beberapa kali, tetap sama.

Copot batere dan mendiamkannya beberapa waktu sudah dilakukan. Begitu dipasang dan coba menelpon, tetap saja sama. Menggantinya dengan kartu lain pun demikian, ga ada perubahan. Udah begini, wajar rasanya jika mengira headset ponsel rusak. Kalo dibawa ke tempat servis, pastinya uang melayang *garansi udah abis

Ternyata yah! Obatnya hanya perlu didiamkan saja. Alias, menunggu dibenarkan dari sananya oleh operator. Karena, "ajaibnya" kalo ditelpon dari nomor Flexi, suara lawan bicara bisa terdengar jelas. Jadi kami menyimpulkan bahwa ini hanya gangguan jaringan semata. Dan, benar saja. Setelah beberapa waktu yang cukup lama. Semua kembali normal.

Seandainya tak melakukan berbagai test (copot batere, ganti sim card dan telpon ke berbagai provider),  dan akhirnya menelpon menggunakan Flexi tidak bermasalah, tak menutup kemungkinan ponsel di servis atau bahkan ditukar tambah. Komunikasi terganggu, kocek pun terganggu. Kalo udah begini, apalagi kalo bukan kerugian moril dan materil pelanggan.


Pelanggan oh pelanggan, nasib mu..


-Ling-