My Favorite

Favorite Place. Favorite Man.

Kunjungan Pertama

Kunjungan pertama ke negeri Singa. Bosan dengan Merlion, bergaya dengan latar landmark lainnya.

Semoga...

Semoga semua berjalan lancar
Semoga kerja keras terbayar
Semoga..


-Ling-

Kawah Putih

Sekian lama mendengar tentang keindahan Kawah Putih, Bandung, akhirnya kesampaian juga melihat langsung ke sana. Tak sia-sia melakukan perjalanan yang tujuan utamanya mengantar saudara ini. Nyenengin orang sekalian nyenengin diri sendiri :)

Tak seperti biasa yang kalo berangkat pasti rombongan, kali ini kami hanya berangkat berempat. Meski lebih seru kalo pergi rame-rame, tapi berempat memberikan pengalaman tersendiri. Bisa dibilang double date bersama om dan tante ^^

Selain foto-foto, tak banyak yang bisa dikerjakan di Kawah Putih. Waktu yang disarankan untuk foto-foto menikmati mahakarya alam yang satu ini hanya sekitar 15 menit atau sampai tenggorakan terasa kering. Kalo ga salah inget, kemaren itu kami berada di sana lebih dari waktu yang disarankan :P

Berikut beberapa hasil jeprat-jepret di Kawah Putih

Nasib berpergian dengan orang tua gaptek, ga ada yang bisa fotoin balik :( Selama perjalanan hari itu, hanya satu foto ini yang isinya Kami berdua! Itu pun udah pake crop untuk membuang jempol sang fotografer yang ikut tertangkap kamera hahahaha..
-Satu-satunya foto Kami di Kawah Putih-
Oh yah, ada opsi wisata hemat buat yang mau ke Kawah Putih dengan kendaraan pribadi, terlebih bagi yang berpergian hanya 2-4 orang. Sebelum masuk pintu loket, ambil ke arah kanan. Parkir kendaraan di sana, lalu membeli tiket dan melanjutkan perjalanan dengan kendaraan umum yang telah disediakan.

Jika melanjutkan perjalanan dengan kendaraan pribadi dikenakan biaya tambahan Rp 150.000,- per mobil diluar tiket masuk wisata Rp 15.000,- per orang. Padahal kalo naik kendaraan umum, hanya Rp 25.000,- untuk tiket masuk dan ongkos. Lumayan kan selisihnya? Jangan ulangi kesalahan kami!
-Kawah Putih: Terminal / Halte-
Pesan khusus kalo ada yang mau ke sana, Strawberry-nya manis-manis! Harganya pun lebih murah dibandingkan dengan yang di Situ Patengan. Kalo punya waktu, boleh juga tuh melanjutkan perjalanan ke Situ Patengan. Lokasinya tidak terlalu jauh kog ^^


-Ling-

Can't Wait

Its been a while since our last date movie time.

When I got that email yesterday, cengar-cengir sendiri deh.. hihihihihi ^^

Now, soon, we'll having our (just) we-time. Can't wait! :D 



-Ling-

Happy November!

Oktober 2011 yang ditunggu-tunggu kini udah berlalu
Siap sedia sambut November dengan status baru ^^

Happy November!! :D


-Ling-

Our (Another) Day: Cio Tao

Pertama kali mendengar penjelasan kata Cio Tao dari si Kamu, yang terlintas dalam pikiran "ribet". Ngebayanginnya aja udah berasa ribet, gimana mau ngejalaninnya..

Hari berganti minggu. Minggu terusir bulan. Sampai bulan hampir didepak tahun, si Kamu tetap kokoh pada pendiriannya. Alasan utama, ada niat yang sempat terucap di depan almarhum sang Mama, bahwa jika suatu saat dia menikah akan diusahakan melakukan upacara Cio Tao

Mendapat alasan yang (menurut gue) cukup kuat, maka negosiasi pun dilakukan. Kesepakatannya, kami akan mengadakan upacara Cio Tao, tapi tidak secara keseluruhan dan akan diselenggarakan setelah tanggal yang ditentukan. Bagian utama yang diambil adalah "sembayang pada mama si Kamu".

Semua persiapan Cio Tao akan diurus oleh si Kamu. Kali ini gue hanya terima bersih dan menerima update aja. Eits, ga ada alasan negatif disini, semua hanya karena dia yang lebih mengetahui atau minimal mempunyai akses ke narasumber yang mengetahui seluk-beluk per-Cio Tao-an.

Tiga hari setelah hari H, kami pun berangkat ke Parung Panjang untuk menyelenggarakan upacara Cio Tao. Bekal yang gue bawa adalah, ketidaktahuan mutlak. Tadinya sempat menebak-nebak. Ternyata sama sekali tak sama seperti yang gue kira. Jadi yah sekalian aja gue biarkan kondisi otak kosong dan baru akan diisi sambil menjalaninya langsung.

Berikut kronologis singkat upacara Cio Tao kami yang ala kadarnya:
Begitu sampai, gue langsung ngadem, dan mulai dirias oleh penata rias yang juga merangkap sebagai pemimpin upacara Cio Tao. Lalu disuruh mengganti baju dengan sejenis kemeja putih yang dibuat khusus untuk gue, tapi ga boleh diukur. Jahitnya juga hanya boleh pada tanggal 1 atau 15 Imlek.

Dengan riasan setengah jadi, hanya rias wajah dengan rambut masih tergerai, gue ditinggal sang perias mempersiapkan pihak lelaki dan meja altar untuk keperluan acara selanjutnya. Cukup lama juga, gue sampai sempat terlelap soale :P

Ketika gue dibangunin, ternyata yang cowo uda selesai ritual pertama dan sudah "disembunyikan". Gue dituntun ke ruang tengah oleh adik. Lalu sang adik, menyisirkan rambut sesuai instruksi, si penata rias.

Proses merias dilanjutkan ditengah-tengah ruangan. Hemm, lebih kepada proses mengenakan aksesoris dan pakaian adat aja seh. Kali ini dilakukan oleh si Penata Rias dan Mama. 

Ada beberapa kegiatan lain yang menyusul. Semua berlangsung cukup cepat, jadinya udah lupa-lupa ^^ Yang paling mencolok adalah ada acara anggota keluarga yang hadir memberikan uang pelita. Aturan khususnya, uang yang diberikan harus sepasang (dua lembar) dalam jumlah yang sama. Setelah semua memberi, uang tersebut dirapikan oleh sang mama lalu diberikan kepada gue. Oh yah, uang yang didapat tidak diambil semua, harus disisakan satu pasang.

Biasanya kan kita mengenal adanya Teh Pai, di Cio Tao, sebelum Teh Pai ada acara Ciu Pai *istilah karangan sendiri :P Di sini, mempelai perempuan menyajikan Ciu atau arak kepada anggota keluarga yang lebih tua. Setelah para sesepuh meminumnya, Ciu disuapkan kepada mempelai. Teh Pai dilakukan setelah Ciu Pai selesai. Tapi gue ga melakukan Teh Pai karena sudah waktu hari H.

Setelah itu, ada pemasangan tutup kepala yang dilakukan oleh orangtua dan/atau wali.

Baru kemudian dipertemukan dengan penganten lelaki yang datang menjemput. 

Rangkaian acara setelah kedua mempelai bertemu juga cukup beragam. Ada buku tudung, copotin kembang dan saling suap makanan.

Tak (mungkin) ketinggalan sesi sembayang dan minta restu para leluhur.

Acara terakhir, makan keluarga. Begitu liat jam, keseluruhan acara beres semua dalam waktu 2 jam-an. Itu adalah versi singkat. Kalo menjalankan semuanya seh, bisa-bisa abis acara nyari tukang urut leher! Tadinya mau foto-foto lebih banyak lagi aja ga jadi karena udah keburu pegel :P

Ternyata seru juga bikin acara adat begini. Foto-foto Pengalaman sekali seumur hidup ^^



-Ling-

Photoshop-an: Kartun

Semalam browsing-browsing nemu satu web yang ok banget buat para pecinta photoshop. Dari namanya aja, ilmuphotoshop.com, udah ketahuan kalo empunya blog mendedikasikan diri untuk berbagi ilmu dan trik yang bisa dimaksimalkan dari software olah foto yang udah ga asing lagi ini.

Dari sekian banyak ilmu yang dibagi di sana, gue tertarik untuk mencoba yang satu ini. Pilih-pilih foto yang akan diutak-atik, dan....

Berikut hasilnya!

Like it? Si Kamu katanya ga suka sama efek foto begini, tapi kan ini blog gue, jadi suka-suka gue :P

Pengerjaannya menggunakan permainan layer dan masking. Dari penggunaan brush tool jadi ingat kelas desktop publishing jaman kulian dulu.

Yuk mari mencoba.. Ga susah-susah amat kog ^^


-Ling-

Our Day: Resepsi

Sabtu, 15 Oktober 2011

Adat, Agama dan Negara. Tiga tahapan utama telah dilalui. Selanjutnya, perayaan ^^

Sempat deg-degan ketika membayangkan bagaimana hari yang panjang ini akan ditutup. Sempat juga terbersit sesal akan beberapa hal yang tercoret dari daftar. Bersyukur semua sirna tepat pada waktunya.

Selesai retouch jam 4 lewat, langsung menuju tempat resepsi yang terletak tak jauh dari hotel. Beberapa saudara telah tiba di sana. Sambil menunggu berkumpulnya beberapa saudara lagi untuk Teh Pai, nyolong-nyolong berputar menyusuri area resepsi.

Acara foto bersama sebelum resepsi dimulai terpaksa dibatalkan karena anggota keluarga yang belum lengkap. Alokasi waktu yang telah disiapkan diisi dengan santap keluarga.

Meski belum waktunya, banyak tamu undangan yang telah tiba. Alhasil, penganten harus diungsikan ke dalam ruang tunggu. Sambil memastikan Wedding Game dengan MC.  

Acara di mulai sekitar jam 7 lewat. Yang paling diingat adalah ketika kami berjalan menuju pelaminan. Apa yang terasa saat itu sungguh sulit diungkapkan melalui kata-kata. Yang muncul ketika membayangkannya hanyalah.. Terimakasih untuk semua yang telah hadir di sana!! 

Detik-detik selanjutnya berlalu bagai diawang-awang. Rangkaian acara yang sudah diluar kepala, kali ini berarti harafiah, sungguh-sungguh melayang di luar kepala. Satu per satu instruksi MC kami ikuti. Dan, tanpa terasa semua sudah berlalu dan kami telah berada di penghujung acara.

Pesan pihak penyelenggara:
Terimakasih atas segala dukungan dan uluran tangan! 
Mohon maaf jika ada salah-salah kata dan tindakan ^^
Mohon doa restu untuk kami!! :D


-Ling-