My Favorite

Favorite Place. Favorite Man.

Kunjungan Pertama

Kunjungan pertama ke negeri Singa. Bosan dengan Merlion, bergaya dengan latar landmark lainnya.

Our Day: Pemberkatan

Sabtu, 15 Oktober 2011

Menjelang siang, rangkaian acara kedua menunggu untuk dimulai. Pemberkatan dimulai terlambat dari waktu yang telah ditentukan, mestinya udah harus sampai lokasi 11.30 dan mulai tepat pukul 12.00, tapi kami tiba udah lewat jam 12 dan masih menunggu mobil orangtua yang sempat nyasar.

Acara sederhana di Vihara Saddhapala ini berjalan cukup lancar sampai pihak catatan sipil yang mendadak (sok) sibuk dan minta disela di tengah susunan acara pemberkatan. Jadi, begitu selesai pemberkatan, dilakukan proses catatan sipil, setelah proses legalisasi hukum selesai, baru dilanjutkan dengan acara "sungkeman" dan foto-foto.

Biasanya, bagian menegangkan dari rangkaian acara di Vihara adalah pada saat membaca paritta dan mengucapkan janji pernikahan. Takut gugup dan salah ucap. Pada acara kami, ada satu sesi yang juga tak kalah menegangkan, yaitu ketika para saksi ditanya oleh Romo.

Ketika romo menanyakan kepada saksi dari pihak perempuan, siapa yang lebih kenal, apakah penganten lelaki atau perempuan, kami pun mulai tegang. Kedua saksi adalah keluarga dari pihak perempuan! Saksi dari pihak lelaki yang telah dipersiapkan sejak awal ternyata tidak memenuhi syarat dan harus diganti. Tidak boleh ada hubungan darah langsung antara saksi dan calon penganten, jadi si Koko batal jadi saksi si Kamu.

Tak tau jawaban apa yang akan diberi oleh saksi dari pihak lelaki jika pertanyaan serupa ditanyakan oleh romo. Saksi kami yang satu ini super polos dan jujur! Beruntung romo tak menanyakannya :D Tak tau apa yang akan terjadi jika si saksi menjawab dia lebih mengenal penganten perempuannya. Bisa-bisa tidak jadi dinikahkan.. ckckckck

Kami meninggalkan vihara sekitar jam 2 lewat dan tiba di Aston Marina jam 3 kurang. Acara kembali sesuai dengan susunan yang telah dipersiapkan ^^


-Ling-

Our Day: Jemput Penganten

Sabtu, 15 Oktober 2011

Acara pertama kami setelah selesai dandan adalah, Jemput Penganten. Dalam kasus kami, karena satu dan lain alasan, acara akan berlangsung di hotel. Berdasarkan beberapa pertimbangan, terpilihlah hotel Grand Asia, Bandengan, sebagai markas penganten perempuan dan hotel Aston Marina, Ancol, sebagai markas penganten lelaki.

Penganten Lelaki setelah "dipersiapkan" oleh orangtuanya akan datang ke tempat Penganten Perempuan bersama seorang Pengapit Lelaki alias Bestman. Bestman (kami) mempunyai peranan yang cukup penting, segudang tugas telah menantinya sejak subuh.

Pada saat bersamaan, Penganten Perempuan juga "dipersiapkan" oleh orangtuanya. Dalam kebiasaan Khek, ada acara "Ci Moi Fon" atau "makan nasi saudara" dalam bahasa Indonesia, yang dilakukan sebelum penganten lelaki menjemput.

Begitu sampai di tempat penganten perempuan, tugas pertama Bestman adalah membukakan pintu mobil Penganten Lelaki. Untuk tugas yang satu ini, Bestman akan mendapatkan satu buah angpao merah dari sang Penganten Lelaki.

Orangtua penganten perempuan akan menerima kedatangan calon menantunya di depan pintu. Setelah memberi salam, kedua mempelai akan dipertemukan. Acara pertemuan ini ditandai dengan buka tudung penganten dan pertukaran bunga.

Setelah itu, dimulailah acara Teh Pai, kedua mempelai menyajikan teh kepada saudara-saudara dari pihak perempuan. Yang pertama adalah Teh Pai kepada orangtua atau wali penganten perempuan, lalu diikuti oleh sesepuh dari ayah kemudian ibu. Urutannya berdasarkan "pangkat" dan usia. Penganten hanya menyajikan teh kepada yang lebih tua. Jika ada saudara yang lebih muda yang mau Teh Pai, maka kedua mempelai yang akan disajikan teh.

Selesai acara Teh Tai, kedua mempelai menuju markas penganten lelaki. Ketika akan berangkat, penganten perempuan akan membawa koper, biasanya dipilih yang berwarna merah, serta beberapa perlengkapan yang telah dipersiapkan oleh orangtuanya. Barang-barang tersebut dibawakan oleh saudara yang lebih muda sampai ke mobil. Tak lupa sang penganten lelaki memberikan angpao kepada mereka yang telah membantu membawakan barang isterinya.

Di markas penganten lelaki, orangtua atau wali penganten lelaki akan menyambut di pintu. Setelah memberi salam, kedua mempelai akan menuju kamar penganten yang telah dipersiapkan. Di sini akan ada acara buka koper. Penganten lelaki akan membeli kunci gembok dari penganten perempuan dengan sebuah angpao, kemudian membuka koper tersebut. Lalu, orangtua penganten lelaki akan menyalakan lentera untuk kedua mempelai.

Acara terakhir adalah Teh Pai kedua mempelai kepada keluarga penganten lelaki. Syarat dan ketentuan yang berlaku sama seperti Teh Pai di pihak penganten perempuan ^^

Our Day part 1.1
Selesai


-Ling-

Titik Balik Kesabaran

Rasanya baru gedebak-gedebuk menghitung hari yang tersisa untuk mempersiapkan segala sesuatu sebelum hari H, kini semua sudah menjadi masa lalu. Semua persiapan dan segala bentuk kekhawatiran sudah tak berarti apa-apa.

Meski tak semua berjalan seperti yang diharapkan, meski ada saja yang di luar perencaan dan mengecewakan. Toh, kami berhasil dipersatukan dalam kesakralan yang ditutup dengan perjamuan malam yang (diharapkan) berkesan bagi para tamu undangan serta semua pihak yang sudah mengulurkan bantuan ^^

15 Oktober 2011 berjalan super cepat. Rangkaian acara yang padat menjadikannya hari kilat. Acara yang dimulai sejak subuh disusun sedemikian rupa tanpa jeda sampai penutupan di malam harinya *kalo ada yang mau contekan susunan acara bisa tinggalin pesan di komen :)

Pelatihan terbesar yang diterima pada hari Sabtu yang satu itu adalah, kesabaran. Bersabar menerima segala kekurangan serta janji palsu dari pihak tertentu. Saking bersabarnya, sampai-sampai salut sama diri sendiri yang mampu melakukannya dengan baik.

Rasanya tak adil jika kesabaran dimanfaatkan. Saatnya melakukan perhitungan ulang. Janji adalah hutang, teman! Terlebih jika tak memenuhi janji untuk perkara besar yang tak mungkin diulang kembali, tafsir saja sendiri harga yang harus dibayar jika dinominalkan.


-Ling-

Thank You!

Dear Family and Friends,

Thank You for joining our Big Day at:

Lodan Mas Function Hall 2nd floor
Saturday, October 15th 2011

We are super glad!!!

Klik to join our WEDDING GAME!

Messages at comments would be an extra gift for our memorable day ^^


-Ling-

Sangjit: Oh Begitu..

Kesibukan mempersiapkan acara Sangjit terbayarkan sudah. Acara bisa dibilang sukses, meski terjadi per-spora-an pasukan yang datang ^^ Semula diinformasikan pasukan yang datang sekitar sembilan orang. Eh, keesokannya, waktu dikabari kalo pasukan siap berangkat, jumlahnya menjadi 17 orang! Ckckck 

Di postingan sebelumnya, Sangjit: Persiapan, diceritakan tentang isi nampan. Rupanya, selain isi nampan, tata cara dan aturan untuk pasukan pembawa dan penerima nampan juga tak sama. Aturan dari pihak Kamu, pasukan yang datang tak dibatasi, tapi yang boleh membawa nampan hanya kaum perempuan yang udah menikah. Kalo di keluarga gue ga ada ketentuan seperti itu. Siapa saja boleh membawa atau pun menerima nampan di acara Sangjit.

Jadinya waktu Sangjit kemaren, yang menyerahkan para ibu-ibu, dan diterima oleh "siapa saja" dari pihak gue. "Siapa saja"-nya didominasi oleh kaum muda, biar mendapat angpao enteng jodoh katanya *tiap pembawa dan penerima nampan mendapat angpao Asimilasi kebudayaan kecil-kecilan deh :P

Nampan yang diterima dibuka dan dikeluarkan sebagian isinya. Buah-buahan dan kue disajikan untuk dinikmati bersama. Pita bola dipasangkan ke pintu utama. Isi lainnya, selain yang sudah ada jatahnya, seperti kalengan, lilin, teh, permen, diambil setengah lalu setengahnya lagi dibiarkan tetap di dalam nampan untuk nanti dikembalikan ketika mau pulang.

Si calon penganten lelaki yang datang pada hari Sangjit tidak boleh langsung masuk ke dalam rumah perempuan. Setelah pihak perempuan menerima dan menyepakati maksud dan tujuan kedatangan yang disampaikan oleh juru bicara, baru deh boleh masuk dan dipertemukan dengan si calon penganten perempuan.

Oh yah, bersyukur banget di acara Sangjit kemaren ini gue sempat nyeletuk dan mengundang sepupu untuk datang. Jadinya dapat bala bantuan untuk mempersiapkan acara makan siang, meski merasa ga enak juga karena jadinya ngerepotin hehehe.. Satu kata, Terimakasih!

Ngomong Nulis soal makan, adat si Kamu lucu juga. Pada saat acara makan siang, si Kamu kembali diuji. Dia ga diperbolehkan ikut makan. Paling mentok cuma boleh minum dan nyicip sedikit kue atau buah. Jadinya, waktu pulang, si Kamu dibekalin lunch box.

Katanya, untuk acara Sangjit, sebaiknya di mulai pada pagi hari dan selesai sebelum jam 12 siang. Biar pulangnya ga kena macet kali yah.. :P 


-Ling-

Sangjit: Persiapan

Salah satu yang tak terlepas dari rangkaian acara pernikahan adalah Sangjit. Dalam bahasa Indonesia, pengertian Sangjit bisa disamakan dengan acara "seserahan" yang ada dalam adat dan tradisi sebagian besar suku. Serupa tapi tak sama. Sama-sama ada, tapi berbeda dalam pelaksanaan dan tata cara. Intinya yah si pihak calon penganten lelaki menyerahkan sejumlah barang kepada pihak calon penganten perempuan.

Tiap suku bangsa mempunyai tradisi yang berbeda. Meski sama-sama ada acara sedemikian tapi apa yang diserahkan oleh pihak calon penganten lelaki berbeda-beda. Bahkan perbedaan tersebut tampak dalam sesama suku Tionghua.

Untuk kasus gue, daftar isi seserahan mengikuti suku Khek, khususnya Jawai, Kalimantan Barat. Alasannya, karena gue punya lebih banyak waktu sumber informasi yang bisa ditanya lebih lanjut. Kalo nyokap si Kamu masih ada, mungkin kasusnya akan berbeda. Isi nampan-nampan yang dibawa kemungkinan besar mengikuti daftar suku Hokien.

Gue dan si Kamu memutuskan untuk membuat daftar dengan membedakan antara yang utama dan tambahan. Jadi, list utama adalah mengikuti daftar gue, tapi jika ada yang harus ditambahkan berdasarkan tradisi Hokien, baru deh. Begitu juga benda-benda tambahan yang muncul mengikuti perkembangan jaman.

Laju asimilasi antar suku lumayan membuat bingung. Daftar isi menjadi campur aduk. Ujungnya, isi kantong dijamin terkeruk. Males deh.. Meski yang disuruh belanja si Lelaki, tapi kan nantinya untuk keuangan akan menganut paham "uang mu uang ku, uang ku yah uang ku" :P

Jalan keluar yang gue pilih adalah menanyakan daftar isi nampan Sangjit yang utama kepada beberapa sesepuh. Apa aja yang minimal harus ada? Anggap aja calon gue ga mampu, apa isi minimal yang harus dia bawa?

Dari jawaban-jawaban yang gue terima, ditambah beberapa item karena alasan khusus, berikut hasil belanja Sangjit satu hari kami.
1 angpao uang susu
1 angpao lamaran
1 angpao pengganti baju mama
1 potongan kain pao ji pu
2 pita bola + fungchiu
2 pasang lilin penganten + kimfa
2 botol sparkling grape juice
4 kaleng Cukiok
4 kaleng Longan
4 kaleng kacang polong
4 kaleng Fanta merah
4 bungkusan permen
4 bungkusan kelotok
12 bungkus teng-teng kacang
12 bungkus kue sangjit
12 bungkus jipang
1 angpao pengganti uang sepatu 
4 bungkusan teh
4 bungkus rokok + korek
8 buah cupcakes
1 kue lapis
8 buah apel
8 buah jeruk
2 buah jeruk bali
1 kg buah anggur
1 baju untuk nenek
1 baju untuk mama angkat

Karena si Kamu melangkahi kakak perempuannya, jadi, untuk "syarat" ada tambahan:
1 buah gunting
1 gulung pita merah
1 setel daster

Tak ketinggalan ornamen-ornamen untuk mempercantik nampan serta angpao untuk pasukan pengantar nampan ^^

Urusan isi nampan Sangjit seharusnya dipersiapkan oleh keluarga pihak lelaki. Tapi karena daftar belanja dari pihak perempuan, maka acara eksekusi dilakukan oleh gue dan Kamu. Lalu, karena satu dan lain hal (baca: macet), akhirnya barang belanjaan dirapikan dan dihias di tempat gue. Baru kemudian si Kamu bawa pulang dan susun ke dalam nampan yang sudah dipersiapkan.

Seru juga rushing seharian untuk keperluan Sangjit..


-Ling-

Laser

Setelah terposting sekian lama, akhirnya ilmu Setting Label terpakai juga. Undangan udah berbaris dibelakang garis start untuk mulai meluncur.

Secara teknis, tutorial yang gue buat ini sangat membantu dalam menyiapkan si label nama tamu yang dituju sebelum disampaikan. Ketika gue coba print, nama-nama tamu yang akan diundang, tercetak tepat pada posisinya di atas label Tom & Jerry 103 warna putih. Tapi, *kenapa harus ada kata tapi? hal lain muncul menjadi penghadang! Begitu gue ganti dengan label yang transparan, hasil cetakannya berbayang.. Huhuhuhu

Rupanya oh rupanya, label transparan tidak cucok dengan printer laser. One problem solved, another appear. Grrr... Nyoba ngakalin dengan nge-print hanya satu label tiap kali nyalain printer *kata si Kamu, mungkin karena kepanasan Tapi, *sekali lagi tapi selain berbayang, hasil cetakannya ternyata tidak bisa menempel dengan sempurna. Gampang ngelotok dan copot. Begitu disentuh langsung pudar.

Solusi si Kamu, beli tinta baru untuk printer Inkjet yang selama ini cuma dijadiin scanner. Tapi, *tapi oh tapi 1) mana sempat, 2) mikir-mikir karena bete kalo sampai seperti kasus sebelumnya yang ternyata head-nya udah kering dan ga bisa dipake.

Sempat juga nyari-nyari info lain untuk ngakalin masalah ini di Google. Dan, ternyata memang bahan yang dipake untuk nge-print pake printer laser itu khusus. Tapi, *fave word of the post ketika si dede nanya ke beberapa toko di Pasar Pagi, ga ada yang jual.

Hayaya... Kalo udah begitu, cuma bisa bilang belum jodoh nge-print label nama pake printer di rumah. Solusi akhir, numpang! :P Berangkat deh ke Evian Garden dengan berbekalkan list nama di memory hape dan tiga bungkus label Tom & Jerry 103 Transparent. 

Meski sempat bingung waktu ngatur settingan karena perbedaaan MS Office yang dipake, Inkjet + Tom & Jerry transparent = Perfecto! ^^ Thanks, Cinta!! Muahhh...


-Ling-