Vihara Banten Lama

Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kali ini tentang perjalanan ke daerah Serang, Banten lama tanggal 18 September lalu. Tujuan utamanya adalah Vihara Avalokitesvara yang terletak di kawasan Karangantu, Kaseman.

Vihara tua yang dibangun pada tahun 1652 ini merupakan salah satu contoh toleransi antar umat beragama yang diterapkan pada masa itu. Raja Banten yang dikenal dengan Sunan Gunung Jati, yang juga mempunyai isteri seorang putri dari Tiongkok melihat banyak perantau China yang ada di Banten lalu membangun vihara agar para umat yang berbeda agama dengan Beliau dapat menunaikan ibadahnya.

Perjalanan dari rumah ke vihara ditempuh dalam waktu sejam lebih, udah termasuk salah turun tol dan satu kali salah lokasi. Karena ga tau letak pastinya, yang dijadikan patokan untuk GPS adalah masjid Agung Banten. Fakta yang tidak diketahui adalah meski dikatakan berdekatan, ternyata jarak antara masjid dan vihara itu terpaut sekitar 10 km. Dan, rupanya yang benar-benar berdekatan dengan vihara tua ini adalah benteng Speelwijk.

Kesan pertama ketika mendekati vihara sangat berbeda dengan ketika memasuki kawasan masjid Agung. Tak tampak keramaian maupun petugas yang berjaga di pintu masuk. Tempatnya pun tidak besar jika dibandingkan dengan kawasan komplek masjid. Yang terasa adalah udara panas dan kering serta sengatan matahari siang.

-Pintu Masuk Vihara Avalokitesvara-
Begitu melewati pintu masuk, terlihat dua tungku pembakaran yang menyerupai pagoda, di masing-masing sisi.

-Tungku berbentuk Pagoda-
Rupanya ruang utama vihara sedang direnovasi akibat kebakaran yang terjadi beberapa tahun lalu. Secara menakjubkan, rupang utama Dewi Kwan Im yang telah ada sejak abad ke-16 selamat dari kobaran api meski terbuat dari kayu.

Warna merah mendominasi interior dan eksterior ruang-ruang lain di vihara tersebut. Yang tersisa tidak berwarna merah adalah deretan panjang kamar peristirahatan yang disediakan bagi umat yang datang dari jauh dan ruang Dhammasala yang berdinding putih meski tetap dihiasi dengan tiang dan atap berwarna merah.

-Deretan tempat istirahat yang disediakan bagi umat untuk menginap-


-Dhammasala dan air mancur kecil yang ada di depannya-
Lorong-lorong yang menghubungkan antar ruang mengingatkan akan bangunan kuno di negeri China yang sering muncul di serial silat.

-Lorong penghubung antar ruang-
Dibagian atas lorong dihiasi dengan panel ukiran yang sepertinya menceritakan mengenai sesuatu. Sayang waktu itu tidak sempat mencari tahu lebih lanjut mengenai apa yang diceritakan.

-Panel cerita-
Suasana di dalam vihara cukup asri, banyak pohon dan rumput yang tertata rapi. Halaman belakang tidak di semen semua. Hanya bagian jalan sepanjang lorong saja yang dipasang keramik atau bebatuan untuk menghubungkan antar ruang.

-Jalan dari batu & Gazebo-
Selesai sembahyang, kami berniat melanjutkan perjalanan ke pantai Anyer. Tapi sebelumnya, mampir dulu ke komplek sebelah dan menikmati sisa benteng Speelwijk yang kini sudah hampir rata dengan tanah.

Notes:
Titik koordinat: 6° 1' 48.99" S 106° 8' 59.19" E
Vihara Avalokitesvara on Wikimapia


-Ling-

1 comments

Lee Nov 22, 2014, 10:57:00 AM

keliatannya bagus ya..pengen kesana besok

Post a Comment